- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan orasi budaya dalam Dies Natalis ke-61 FIB Undip di Semarang pada Selasa, 13 Oktober 2026.
- Dedi Mulyadi memilih dipanggil Akang dan Cepot serta berkomitmen mempertahankan kebudayaan meskipun menghadapi berbagai ancaman fisik dan intimidasi politik.
- Dedi Mulyadi memberikan dua belas beasiswa kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro sampai lulus kuliah.
Beri Beasiswa
Pada orasi budaya KDM di FIB Undip, dihadiri sejumlah civitas akademika setempat. Di antaranya, Wakil Rektor IV Undip Wijayanto hingga Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah.
Di akhir orasinya, KDM menyebut akan memberikan 12 beasiswa kepada mahasiswa FIB Undip. 10 untuk jenjang S1 dan 2 beasiswa untuk jenjang S2, hingga lulus.
Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah mengapresiasi apa yang dilakukan KDM.
“Tentunya nanti kami pilihkan yang berkualitas dan kurang mampu (secara ekonomi), nantinya melibatkan kaprodi (masing-masing) untuk siapa yang pas menerima beasiswanya,” kata Prof. Alamsyah.
Dia mengatakan sengaja mengundang KDM untuk orasi budaya sebagai salah satu inspirasi untuk lebih mencintai budaya lokal.
Rektor Undip Prof. Suharnomo, sebut Prof. Alamsyah, menitipkan salam kepada KDM.
“Beliau mendapat undangan mendadak dari Pak Jaksa Agung pagi ini pukul 11.00, Undip akan mendapat gedung perkuliahan dari Pak Jaksa Agung hasil sitaan, untuk kelas di Jakarta,” ceritanya.
Perjalanan Panjang
Baca Juga: Peserta UTBK Undip Berdalih Tak Paham Alat Dengar di Telinga, Polisi Beri Pembinaan
Prof. Alamsyah menyebut 41 tahun FIB adalah sebuah refleksi perjalanan panjang. Pihaknya selalu berusaha maksimal untuk memperluas langkah menjadi fakultas bereputasi internasional dan mendukung Undip sebagai universitas kelas dunia. Langkah itu salah satunya adalah program internasionalisasi yang ditujukan bagi dosen, mitra dan mahasiswa.
“Internasionalisasi membuat kita lebih terbuka, untuk memahami keterbukaan, kita tengok hubungan budaya Sunda dengan wilayah Jateng,” ungkapnya.
Jauh sebelum Indonesia berdiri, sebutnya, perjalanan manusia, bahasa, perdagangan, agama dan kesenian telah menghubungkan keduanya. Wilayah budaya disebutnya lebih luas dan lebih lentur daripada batas administrasi yang dikenal sekarang.
Prasasti Sang Hyang Tapak bertarikh 1030M menggunakan bahasa Jawa Kuno di wilayah Sunda, memperlihatkan peredaran bahasa dan pengetahuan di Pulau Jawa.
Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 mengisahkan perjalanan melintasi Jawa, termasuk Pamalang atau Pemalang (Jateng).
“Pada abad ke-15 dan ke-16 hubungan Cirebon dan Demak memperluas jaringan perdagangan, keagamaan, politik. Memasuki abad ke-17, pengaruh Mataram di Priangan membawa perubahan dalam tata pemerintahan dan kehidupan budaya,” jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
Terkini
-
KDM di Undip: Lebih Baik jadi Akang tapi Menyenangkan, daripada jadi Bapak Kerjanya Naikin Pajak
-
Hadapi Musim Hujan, Semarang Siagakan 119 Pompa, Pengerukan 5 Lokasi Dikebut
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen Jangkau 60.000 Desa di Indonesia
-
Minta Maaf ke Warga Cilacap, Bupati Nonaktif Syamsul Auliya Rachman Bantah Terlibat Pengumpulan THR
-
Suhu Semarang Diprakirakan Tembus 36 Derajat, Warga Perlu Antisipasi Cuaca Siang Hari