Budi Arista Romadhoni
Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:53 WIB
Suasana program UMKM Naik Level bareng Polytron, Selasa (27/10/2026).
Baca 10 detik
  • Polytron mengadakan workshop bagi 100 UMKM kuliner di Semarang pada 27 Oktober 2026 untuk meningkatkan pembelian berulang.
  • Riset Polytron dan Populix menunjukkan 48 persen UMKM masih mencatat transaksi secara manual serta menghadapi berbagai kendala operasional.
  • Sebanyak 63 persen perintis UMKM mengandalkan tabungan pribadi karena 50 persen pelaku usaha kesulitan meminjam dana bank.

Riset Polytron dan Populix juga menggambarkan karakter pelaku UMKM di Indonesia. Sebanyak 80 persen pelaku usaha masuk kategori perintis, dengan 57 persen terdorong oleh keinginan untuk mandiri dan 46 persen melihat peluang pasar yang menjanjikan.

Kelompok Gen Z dan milenial mendominasi lanskap tersebut dengan proporsi 65 persen.

Namun, kemandirian dalam merintis usaha juga diiringi keterbatasan pendanaan. Sebanyak 63 persen pelaku UMKM mengandalkan tabungan pribadi, sementara 46 persen menggunakan keuntungan usaha sebagai sumber modal secara bertahap.

Sebanyak 32 persen responden menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50 persen mengaku kesulitan meminjam dana dari bank. Persoalan ini antara lain berkaitan dengan literasi keuangan, termasuk 26 persen pelaku usaha yang tidak memahami cara mengajukan pinjaman dan 19 persen yang tidak memiliki akses ke lembaga keuangan.

Data tersebut menunjukkan pentingnya pencatatan keuangan dan transaksi yang lebih terstruktur. Dokumentasi arus kas dan laporan usaha dapat membantu pelaku UMKM memahami kondisi bisnis sekaligus mempersiapkan persyaratan ketika membutuhkan pembiayaan.

Dari Pelatihan ke Praktik Bisnis

Dalam workshop di Semarang, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berlatih menyusun database dan segmentasi pelanggan, membuat tiga contoh pesan WhatsApp untuk situasi berbeda, serta merancang rencana aksi tujuh hari untuk mulai menerapkan strategi repeat order.

Peserta juga mendapatkan informasi mengenai penawaran berlangganan Mekari Qontak secara gratis hingga enam bulan, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi Polytron dengan Populix melalui peluncuran UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level. Panduan tersebut turut mengulas lima anggapan yang dinilai perlu diluruskan dalam pengembangan usaha, mulai dari anggapan bahwa UMKM harus memiliki banyak cabang hingga keyakinan bahwa omzet besar otomatis menjamin keamanan bisnis.

Baca Juga: Persiapan Menuju PON 2028, Gunung Slamet Jadi Kawah Candradimuka Atlet Trail Run Jateng

Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, mengatakan panduan tersebut disusun untuk membantu pelaku UMKM melihat persoalan bisnis berdasarkan temuan lapangan, bukan semata-mata asumsi.

Polytron mendefinisikan UMKM naik level melalui empat pilar, yakni konsep usaha yang lebih profesional, sistem kerja yang tertata, pemilihan aset yang tepat guna, serta ekspansi yang disesuaikan dengan kesiapan bisnis.

Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi bukan sekadar mengikuti tren digital. Tantangannya adalah bagaimana pelaku UMKM mengubah data menjadi pemahaman terhadap pelanggan, komunikasi menjadi hubungan yang berkelanjutan, dan hubungan tersebut menjadi peluang transaksi berulang.

Bagi usaha kuliner yang sedang bertumbuh, pelanggan yang kembali membeli dapat menjadi salah satu penopang keberlanjutan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat.

Load More