Kesehatan Syahrul, Wisudawan IAIN Surakarta Sempat Turun Usai Menjadi PPS

Chandra Iswinarno
Kesehatan Syahrul, Wisudawan IAIN Surakarta Sempat Turun Usai Menjadi PPS
Sri Nuryati Jamil menunjukkan foto almarhum Syahrul Mubarok. [Suara.com/Ari Purnomo]

Kondisi Syahrul semakin buruk usai mengurusi Pemilu 17 April lalu. Waktu itu, Syahrul menjadi PPS di desanya.

Suara.com - Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Syahrul Mubarok (22) yang saat wisuda diwakilkan kedua orang tuanya, Sarifudin (48) dan Sri Nuryati Jamil (46) ternyata mempunyai tiga keinginan sebelum meninggal. Keinginan tersebut ditulisnya dalam sebuah buku harian.

Keinginan tersebut, yakni membelikan sang ayah sebuah handphone, membelikan sepeda motor dan memberangkatkan kedua orang tuanya berangkat berhaji.

Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh ibunda almarhum Sri saat ditemui Suara.com di rumahnya di Krendowahono RT 01 RW 03, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (8/10/2019).

Saat Suara.com tiba di rumah almarhum, ayah Syahrul Sarifudin tengah menggunting kain di ruang tamu. Selama ini kedua orang tuanya memang berprofesi sebagai seorang penjahit.

Di ruang tamu ada sedikitnya tiga mesin jahit. Kemudian terlihat pula samir wisuda dengan tulisan nama Syahrul Mubarok S.H. Di sampingnya ada samir serupa dengan tulisan cumlaude. Setelah mempersilakan masuk, Sri pun mulai membuka cerita mengenai anak sulungnya.

Sri menyampaikan, sebelum meninggal Syahrul memang sempat beberapa kali masuk ke rumah sakit. Bahkan Syahrul sempat menjalani operasi. Tetapi, usai dioperasi kembali tumbuh.

"Di lehernya itu ada benjolan, kalau kecapaian itu muncul tapi kadang hilang. Tapi dia tidak pernah menceritakan kondisinya kepada saya maupun ayahnya. Padahal saya beberapa kali menanyakannya. Kata dokter yang menangani itu tidak berbahaya," terang Sri.

Sri mengira, kondisi Syahrul semakin buruk usai mengurusi Pemilu 17 April lalu. Waktu itu, Syahrul menjadi Petugas Pemungutan Suara (PPS) di desanya. Selama penyelenggaraan itu, Syahrul juga sering lembur sampai pagi.

"Ditambah lagi dia juga sibuk mengurusi skripsinya. Mungkin karena pikiran atau gimana, tapi dia berhasil menyelesaikan kuliahnya tepat empat tahun dengan nilai terbaik yakni IPK 3,70," kata Sri.

Usai menjalani ujian pendadaran, lanjut Sri anaknya masuk ke rumah sakit. Dan meninggal pada 30 Juli. Almarhum meninggal saat menjalani perawatan di RSUD dr Moewardi, Jebres.

"Usai meninggal, kami baru tahu jika almarhum ini mempunyai sejumlah keinginan. Di antaranya ingin membelikan ayahnya handphone, membelikan sepeda motor dan memberangkatkan haji. Tapi belum satu pun ada yang kesampaian," tandas Sri.

Kontributor : Ari Purnomo

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS