Ogah Masuk 'Rumah Hantu', 2 Pemudik Pilih Karantina di Rumah Kosong

Dany Garjito
Ogah Masuk 'Rumah Hantu', 2 Pemudik Pilih Karantina di Rumah Kosong
Dua warga menjalani karantina mandiri di rumah kosong yang terletak di Dukuh Selorjo RT 039, Desa Sepat, Masaran, Sragen, Sabtu (2/5/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Mereka sempat kaget karena suhu tubuh sejak awal datang sampai sekarang masih 37,3 derajat celsius.

SuaraJawaTengah.id - Totok Sugityanto dan Nur Setiyadi, dua warga Desa Sepat, Masaran, Sragen lebih memilih karantina mandiri di rumah kosong daripada harus masuk rumah isolasi yang disediakan pemerintah. Rumah isolasi tersebut belakangan ini memang santer dikabarkan 'berhantu'.

Diwartakan Solopos -- jaringan Suara.com, Minggu (3/5/2020), Totok dan Nur baru saja tiba di kampung halaman dari Palembang, Sumatera Selatan. Kini keduanya menjalani karantina di rumah kosong yang terletak di Dukuh Selorejo RT 059, Desa Sepat, Masaran, Sragen.

Kedua pria yang bekerja di proyek pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit bersyukur bisa pulang sebelum mudik dilarang. Rumah mereka terletak tak jauh dari rumah kosong yang dipakai karantina.

Rumah kosong sederhana dengan tembok plesteran dan papan kayu itu milik mendiang Mbah Darno Pawiro. Rumah itu kosong sejak pemiliknya meninggal empat bulan lalu.

Tetapi sejak sembilan hari terakhir, tepatnya Jumat (24/4/2020), rumah kosong itu di huni Totok dan Nur yang menjalani karantina mandiri. Mereka memilih menjalani karantina selama 14 hari di sana ketimbang berkumpul bersama istri dan anak di rumah.

Kalau ingin melihat, anaknya hanya mengintip dari balik jendela luar

Keperluan sahur dan buka puasa kedua pria ini dicukupi keluarga masing-masing. Sehari-hari mereka berkomunikasi dengan keluarga melalui ponsel. Mereka berkomitmen menjalani karantina di rumah kosong untuk mencegah penularan virus corona.

“Meskipun rumah saya bersebelahan hanya berjarak 2 meter, komunikasi juga lewat ponsel. Anak saya kalau ingin lihat bapaknya hanya mengintip dari balik jendela luar. Kami sudah komitmen untuk karantina mandiri selama 14 hari dan tidak berkumpul dengan keluarga. Supaya kalau kami bawa virus biar hilang dulu,” ujar Nur saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (2/5/2020) siang.

Totok pun melakukan hal serupa. Ia berkomunikasi dengan keluarga lewat HP. Warga lainnya pun tidak berani bertatap muka langsung, tetapi menelepon ketika menanyakan kabarnya.

Totok dan Nur tidur di dipan kayu dengan jarak yang diatur sedemikian rupa. Nur tidur di dipan yang membujur ke utara. Sedangkan Totok tidur di dipan kayu membujur ke barat bersebelahan dengan lincak yang digunakan untuk salat.

Di ruangan itu hanya ada fasilitas kipas angin. Satu meja tempat makanan dan minuman serta meja kursi. Setiap harinya hampir tidak ada aktivitas yang berarti.

Nur biasanya di belakang rumah kosong mencari keringat dengan mencabuti rumput selama menjalani karantina. Totok pun memilih berjemur di saat-saat tertentu. Selebihnya mereka hanya duduk dan bermain ponsel.

"Mereka itu yang panas pikirannya"

Mereka sempat kaget karena suhu tubuh sejak awal datang sampai sekarang masih 37,3 derajat celsius. Tetapi mereka tidak merasa demam, sakit, batuk, apalagi sesak napas.

“Mereka itu yang panas pikirannya,” celetuk Mulyono, Kades Sepat, Masaran, yang bertandang ke rumah kosong itu, Sabtu siang.

Mereka tertawa mendengar celotehan Mulyono. Mulyono bersama Satgas Desa dan Bidan Desa rutin memantau kesehatan mereka bersama. Mulyono pun siap memberi jatah makan bila keluarga tidak mampu.

Karantina di rumah kosong itu bagi Mulyono lebih baik daripada di rumah masing-masing karena benar-benar bisa menghindari kontak langsung dengan orang lain.

“Sekarang jumlah pelaku perjalanan di Sepat sebanyak 306 orang. Kemarin sempat ada warga yang hendak pulang dari Surabaya. Kemudian boleh mudik tetapi harus menempati rumah isolasi yang disediakan pemerintah. Akhirnya, dia tidak jadi pulang,” ujarnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS