- Dinas Perpustakaan Sleman mencatat penurunan kegemaran membaca signifikan akibat tingginya penggunaan internet oleh masyarakat.
- Pada 2025, peringkat kegemaran membaca Sleman di DIY turun menjadi ketiga di bawah Kulon Progo dan Bantul.
- Keterbatasan armada perpustakaan keliling hanya menjangkau sekitar 85 sekolah dari total lebih dari 600 institusi.
SuaraJawaTengah.id - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mencatat adanya penurunan tajam pada angka statistik kegemaran membaca di wilayahnya. Hal itu disebabkan dari faktor keaktifan dan penggunaan internet yang kian tinggi.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, mengungkapkan bahwa merosotnya angka-angka tersebut terpantau sangat signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024.
Penurunan ini berdampak langsung pada posisi kompetitif Sleman di tingkat provinsi. Pada tahun 2025, Sleman hanya menduduki peringkat ketiga dalam tingkat kegemaran membaca se-DIY di bawah Kabupaten Kulon Progo dan Bantul.
"Sementara untuk kalau dibandingkan dengan tahun 2024, memang semuanya terjadi penurunan di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta ini mengalami penurunan dan cukup signifikan juga penurunannya karena yang dari angka 80 itu ke angka 50 sekian," kata Shavitri, Jumat (6/3/2026).
Semakin mudahnya masyarakat mengakses internet merupakan faktor terbesar yang memengaruhi penurunan kegemaran membaca ini.
Kepala dinas yang akrab disapa Evi itu membuat kecenderungan anak-anak untuk membaca buku secara konvensional atau fisik makin merosot.
"Kalau didalam survei, memang ada pilihan. Membaca buku dari buku konvensional atau dari internet, e-book. Tapi mungkin ini menjadi perhatian bagi pendidik dan kita semua, bagaimana anak-anak kita itu mencari sumber referensinya dari internet," ungkapnya.
"Jika dulu, kita mengetahui sesuatu dengan mencari dari buku, tapi anak sekarang menggunakan chat-gpt ataupun gemini," imbuhnya.
Kondisi cukup memprihatinkan terlihat pula pada Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sleman. Berdasarkan data evaluasi, indeks pembangunan literasi di Kabupaten Sleman mengalami penurunan satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
"Turun satu peringkat. Jadi yang tadinya di peringkat tiga turun menjadi peringkat empat di tahun 2025," ucapnya.
Evi tak memungkiri bahwa penurunan angka-angka itu menjadi perhatian serius.
Walaupun memang target literasi masyarakat Sleman di tahun 2025 masih menunjukkan tren positif dengan berhasil melampaui target dari 54,04 menjadi 67,18.
Ia mengakui bahwa tantangan di lapangan cukup berat. Termasuk keterbatasan sarana penunjang literasi seperti armada perpustakaan keliling.
Keterbatasan armada Jaka Tingkir (Jelajah Perpustakaan Menuju Literasi yang Terkini dan Responsif) atau perpus keliling menjadi salah satu kendala dalam menjangkau ratusan sekolah dasar dan menengah di Bumi Sembada.
Saat ini, layanan tersebut baru mampu menjangkau maksimal 85 sekolah per tahun. Jauh di bawah total jumlah sekolah yang mencapai lebih dari 600 institusi.