Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Polisi Tuding Aksi Tolak Omnibus Law Ditunggangi Gerakan Separatis Papua

Chandra Iswinarno Jum'at, 14 Agustus 2020 | 18:51 WIB

Polisi Tuding Aksi Tolak Omnibus Law Ditunggangi Gerakan Separatis Papua
Massa aksi tolak Omnibus Law di Semarang saling dorong dengan polisi. [Suara.com/Dari Yusuf]

Koordinator aksi Karmanto menyatakan unjuk rasa yang disampaikan massa tak sedikitpun mencerminkan perilaku makar.

SuaraJawaTengah.id - Ratusan masa aksi tolak Omnibus Law Cipta Kerja di Kota Semarang yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) dituduh separatis oleh oknum polisi.

Menyanggah sangkaan tersebut, Koordinator aksi Karmanto menyatakan unjuk rasa yang disampaikan massa tak sedikitpun mencerminkan perilaku makar maupun pernyataan-pernyataan yang mencerminkan separatis.

"Saya tepis tuduhan tersebut, menurut saya tidak ada tanda-tanda sparatis," jelasnya saat ditemui di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (14/8/2020).

Lantaran itu, dia menyangkal jika masa aksi tersebut ditunggangi oleh separatis.

Dia bahkan menegaskan, tak ada separatis. Karena, menurut Karmanto, mahasiswa Papua merupakan saudara sesama Warga Indonesia.

"Jadi entah dari Papua, Jawa, Kalimantan atau berasal dari daerah manapun asalnya, dia merupakan warga Indonesia dan mempunyai nggak untuk menyampaikan pendapatnya," ucapnya.

Sebenarnya, lanjutnya, sebelum melakukan aksi di depan Kantor Gubernur Jateng, ia sudah memberikan pemberitahuan terkait isu yang akan diangkat ketika aksi.

Untuk itu, tidak mungkin jika dalam aksi yang dipimpinnya ditunggangi oleh separatis.

"Sebelumnya kan kita sudah memberikan pemberitahuan terkait yang disampaikan dalam aksi," ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui jika dalam aksi yang dipimpinnya terdapat provokasi dari aparat kepolisian yang tidak mencerminkan atau tidak sesuai dengan undang-undang yang ada di Indonesia.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait