Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sosok Laeli, Tersangka Mutilasi Kalibata di Mata Keluarga

Ari Syahril Ramadhan Sabtu, 19 September 2020 | 15:27 WIB

Sosok Laeli, Tersangka Mutilasi Kalibata di Mata Keluarga
Pembunuh Rinaldi Harley Wismanu, mayat tewas dimutilasi. (Suara.com/Yasir)

Mungkin kalau jaman sekarang, orang sekolah pakai tas, dia pakai kantong kresek waktu kelas 1," ujar Makmuri (60), ayah Laeli.

SuaraJawaTengah.id - Keluarga Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27), tersangka kasus mutilasi di Kalibata, Jakarta tak menyangka Laeli bisa melakukan pembunuhan sadis itu. Semasa sekolah, Laeli merupakan sosok penurut dan pintar.

Laeli merupakan warga RT 01 RW 03 Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Di desa itu masih tinggal orang tuanya, Makmuri (60) dan Masliha (55). Makmuri mengungkapkan, Laeli baru lulus Universitas Indonesia (UI) dua tahun lalu. Setelah lulus, anak keempat dari tujuh bersaudara itu bekerja di perusahaan yang berada di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur.

“Laeli masuk kuliah di UI (Universitas Indonesia) lewat jalur beasiswa Bidikmisi karena berprestasi. Anaknya memang pintar dan rajin waktu sekolah,” kata Makmuri saat ditemui Suara.com, Sabtu (19/9/2020).

Makmuri (60), ayah Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27), tersangka pembunuhan dan mutilasi Kalibata. (Suara.com/F. Firdaus)
Makmuri (60), ayah Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27), tersangka pembunuhan dan mutilasi Kalibata. (Suara.com/F. Firdaus)

Menurut dia, prestasi Laeli sudah menonjol sejak duduk di sekolah dasar (SD). Selama bersekolah di SDN Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, dia selalu mendapat rangking. Begitu juga saat Laleli bersekolah di SMPN Lebaksiu dan SMAN 3 Slawi.

Makmuri menuturkan, selain pintar, Laeli juga sosok penurut kepada orang tua dan kakak-kakaknya. Menyadari orang tuanya dari kalangan tidak mampu, Laeli tak pernah menuntut untuk dibelikan macam-macam.

“Mungkin kalau dari kecil saya ceritain, saya tidak kuat. Itu nurutnya ya Allah. Mungkin kalau jaman sekarang, orang sekolah pakai tas, dia pakai kantong kresek waktu kelas 1 SD. Coba Bayangin. Susah betul. Dia pakai kantong kresek, nurut, nggak nangis, nggak apa. Waktu SMA pulang sekolah juga tidak pernah bergaul,” tuturnya sembari terisak.

Menurut Makmuri, tidak ada perilaku yang ganjil dari Laeli semasa kuliah di UI. Dia bahkan sudah bisa mencari uang sendiri di sela-sela kuliah. “Siang kuliah, kalau malam ngelesin buat tambah-tambah,” ucapnya.

Makmuri pun kaget dan tak menyangka sosok yang semasa bersekolah pintar dan penurut itu bisa melakukan pembunuhan disertai mutilasi. Dia menduga anaknya salah pergaulan hingga sikapnya berubah dan menjelma menjadi sosok pembunuh sadis.

“Anak-anak saya nurut semua. Laeli juga tadinya. Makanya saya juga bingung tahu-tahu begini. Mungkin (berubah) karena pergaulan. Setelah bergaul dengan orang yang mungkin tidak karuan jadi begitu. Tadinya tidak. Dia nurut, patuh sama orang tua dan kakak-kakaknya,” kata dia.

Perubahan sikap Laeli itu mulai dirasakan keluarganya tak lama setelah dia lulus kuliah. Sejak itu, selain tak pernah lagi pulang ke Tegal, Laeli juga tak diketahui keberadaannya dan tak bisa dihubungi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait