"Saat itu saya tak punya tujuan, saya tidur di tempat seadanya. Pindah-pindah," ujarnya.
Di tengah perjalanan, Sumini bertemu dengan temannya hingga akhirnya ia dititipkan di rumah orang Juana. Di tempat tersebut untuk sementara waktu ia tinggal.
Beberapa hari kemudian, datang seorang pria bernama Suroji yang menginginkan agar Sumini bersedia dimadu. Saat itu, Suroji sudah mempunyai empat istri.
"Namun saat itu saya tidak mau. Saya menolaknya karena masih trauma," imbuhnya.
Baca Juga:Daerah Rawan Corona, Polres Magelang Raya Tak Izinkan Nobar Film G30S/PKI
Hingga akhirnya, datang suatu malam yang mencekam. Pada hari yang sama Sumini dikepung oleh sekelompok massa yang memukulinya hingga pingsan.
"Seingat saya massa tersebut ada pemuda Ansor, Pemuda Pancasila, Pemuda Marhaenisme dan kelompok-kelompok yang lain," ucapnya.
Ketika ia sadar, Sumini sudah pindah di tempat Polres Pati. Saat ia bangun, seluruh badan Sumini sudah banyak yang lebam. Bahkan, saat itu ia juga ditelanjangi.
"Saat di Polres Pati saya sudah ganti baju, saya ditelanjangi," ungkapnya.
Saat di Polres Pati ia disiksa. Kakinya dijepit kursi, pipinya dibakar dengan batang rokok. Bahkan ia juga sempat disetrum. Hal itu membuat Sumini pingsan berkali-kali.
Baca Juga:FPI Akan Gelar Nobar Film G30S PKI, Catat Lokasinya!
"Saat itu, jawab ya dipukul tidak jawab ya juga dipukul. Siksaan itu berlanjut hingga enam bulan," keluhnya.