Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya

Budi Arista Romadhoni Rabu, 30 September 2020 | 16:33 WIB

Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya
Almarhum Mia Bustam di usia senja. (historia.id/Koleksi pribadi Sri Nasti Rukmawati).

Mia Bustam menjadi tahanan politik selama 13 tahun

SuaraJawaTengah.id - Tragedi 1965 menjadi tsunami politik yang merenggut kemanusiaan. Merampas anak-anak dari buaian para ibu.

Mia Bustam salah seorang korbannya. Aktif sebagai anggota Lekra, menyebabkan Mia 13 tahun berpindah-pindah tempat penahanan tanpa pernah diadili.

Istri pertama bapak seni rupa modern, Sudjojono ini kenyang merasakan dinginnya lantai penjara Wirogunan, Benteng Vredeburg, penjara Plantungan, Wleri, dan Kendal, hingga akhirnya dibebaskan dari penjara perempuan Bulu, 27 Juli 1978.

Pada Oktober 2009, kami menemui Mia Bustam di rumahnya yang asri di Kampung Kandang, Cinere, Jakarta Selatan. Berjarik jawa, Mia Bustam hangat menyambut kami di ruang tamu.  

Namaku Mia Bustam. Resiko sebagai anggota Lembaga Kesenian Rakyat, mendamparkanku ke lantai penjara dingin sisa kolonial ini. Aku bersama ribuan kawan lainnya, dicampakkan, dibuang, dan dihilangkan oleh kuasa rezim kesewenangan.

Apa salahnya, meyakini seni yang bukan hanya untuk seni. Apa salahnya menjadi anggota PKI.

“Berdiri kau. Sana bersandar pada dinding.”

Seorang pemuda yang ditugasi menginterogasi para tahanan PKI di Benteng Vredeburg membantakku.

“Kenapa kau jadi anggota Lekra! Tak tahu kau, Lekra itu mantel PKI!,” Matanya yang merah darah loncat menikamku.

Kembali dia menghardik. “Bawa perintah apa dari Jakarta?”

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait