Debat Perdana Pilkada Solo, Beda Generasi, Beda Visi

Gibran-Teguh yang menjadi calon dari milenial membawa visi menjadikan solo kota modern, sementara Bajo lebih mengutamakan sandang dan pangan warga Solo

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 07 November 2020 | 06:30 WIB
Debat Perdana Pilkada Solo, Beda Generasi, Beda Visi
Dua paslon mengikuti debat perdana Pilkada Solo 2020 di The Sunan Hotel, Jumat (6/11/2020) malam. (Solopos/Nicolous Irawan)

Berbeda dengan Gibran, Bagyo justru fokus pada sandang. Persoalan sandang ini mengisi lebih banyak waktu untuk dijelaskan oleh Bagyo.

"Kita harus menjaga tata krama toleransi dan menghargai. Soal sandang, kita juga harus memulai tentang baju-baju adat orang Solo seperti penggunaan batik dan lurik untuk kepentingan industri di kota Solo," katanya.

Bagyo juga menekankan agar masyarakat Solo menggunakan pakaian adat. Sementara soal pangan, Bagyo juga bakal menghidupkan ekonomi kerakyatan.

"UKM dan UMKM akan kita dorong dan kita bantu. Kita juga akan memberikan bantuan berupa pinjaman lunak," katanya.

Baca Juga:Ditinggal Bagyo Debat dengan Gibran, Istri: Bapak Ndak Grogi, Kami Degdegan

Bagyo menambahkan, pihaknya akan meminta pengusaha di Soloraya untuk membantu orang kecil, UKM dan UMKM.

Debat di Sunan Hotel Solo itu berlangsung 120 menit dan disiarkan langsung di stasiun televisi nasional Metro TV. 

Secara keseluruhan debat publik tahap I Pilkada Solo dimoderatori Eva Wondo dan Wahyu Wiwoho dibagi menjadi delapan segmen. KPU Solo bersama dengan Metro TV mengalokasikan waktu 11 menit 25 detik untuk masing-masing segmen.

KPU Solo telah menggandeng lima panelis atau tokoh untuk menjadi tim penyusun materi debat. Mereka telah menyusun materi atau daftar pertanyaan untuk ditanyakan moderator kepada masing-masing cawali-cawawali Solo. Pertanyaan pra panelis tersebut merujuk tiga tema utama yaitu problematika kota, pelayanan publik dan penanganan Covid-19.

Baca Juga:Pendidikan, Paslon Bajo Siap Menyediakan Alat Komunikasi untuk Siswa

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini