Menurutnya, Indonesia kaya akan cadangan bahan-bahan baku mineral yang digunakan untuk produksi baterai KLBB. Diharapkan apabila industri hilir dari pemanfaatan bahan-bahan baku mineral.
"Ini dapat mengaplikasikan teknologi produksi yang tepat sasaran, tentunya dapat membuat harga baterai pada KLBB menjadi lebih murah dan pada akhirnya akan membuat KLBB menjadi lebih terjangkau bagi konsumen," ucapnya.
Begitu juga berbagai kemitraan MAB dengan universitas dan lembaga penelitan lainnya, semuanya bertujuan untuk mendapatkan produk-produk KLBB unggulan yang tidak hanya memiliki kandungan komponen lokal yang tinggi, tapi juga sudah sarat dengan kearifan lokal.
"Kemutraan tersebut menjadi satu kesatuan dan mempunyai daya saing tinggi di pasaran," katanya.
Baca Juga:Ini 6 Lembaga yang Kembangkan Vaksin Merah Putih
Sasaran akhir kemitraan antara MAB dengan Universitas-universitas dan Lembaga-lembaga penelitian di Indonesia ini selain meningkatkan daya saing produk dalam negeri juga untuk mengurangi ketergantungan atas KLBB import dalam kondisi utuh.
"Kita membuka peluang lapangan kerja sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia pada umumnya," paparnya.
Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional RI Bambang Brodjonegoro mengatakan, potensi mobil listrik mempunyai potensi untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
"Targetnya jangan lama, dalam 100 tahun kemerdekaan Indonesia nanti diharapkan sudah lepas dari negara kelas menengah," ucapnya.

Ia mencontohkan Korea Selatan. Menurutnya negara tersebut maju bukan hanya karena dorongam industri saja, melainkan negara tersebut juga mempunyai kemampuan untuk mendisain.
Baca Juga:Vaksin Bukan Satu-satunya Solusi Penanganan Covid-19
"Tak cukup ekonomi berbasis indistri saja. Mereka sadar kalau ingin bersaing harus bisa desain," imbuhnya.