Pada pertemuan itu, kata Fajar, pihak RS Elisabeth mengakui kelalaian perawat yang bertugas saat itu. Bahkan manajemen berjanji akan menjatuhkan sanksi kepada nakes tersebut.
“Saya pikir sudah selesai karena RS Elisabeth sudah mengakui kesalahannya, tapi selang tiga hari, ada perwakilan RS Elisabeth datang ke rumah duka, mengatakan hal yang bertolak belakang,” katanya.
Saat berkunjung ke rumah duka, perwakilan RS Elisabeth menjelaskan jika tenaga kesehatan yang bertugas saat peristiwa tersebut sudah bekerja sesuai standard operating procedure (SOP).
Fajar semakin naik pitam karena perwakilan RS Elisabeth terkesan membela diri dan cenderung menyalahkan penyakit mendiang adiknya.
Baca Juga:Duh! Pelajar SMP di Banyumas Nekat Gagahi Empat Anak Laki-Laki
“Penananganan adik saya sudah sesuai dengan SOP dan adik saya dinyatakan meninggal karena infeksi akut di perut, kandungan gula darah tinggi yang menyebabkan gagal nafas,” katanya.
Pascakejadian itu, antara pihak keluarga pasien dan RS Elisabeth selalu tarik urat leher. Fajar sendiri belum menemukan titik kesepakatan dan permasalahan terus berlarut-larut hingga Februari ini.
“Permasalahan ini belum saya bawa ke ranah hukum. Saya sudah meminta bantuan ke Dinas Kesehatan Banyumas untuk memediasi penyelesaian kasus ini. Kamis ini kami akan dipertemukan,” katanya.