Tjahjono menerangkan, bangunan yang tersisa dari Schouwburg hanyalah bagian depan yang dahulu digunakan sebagai pemberhentian pengunjung pertunjukan di Schouwburg yang menggunakan kereta kuda.
"Tinggal bagian depannya saja. Karena pada masa penjajahan Jepang, gedung Schouwburg jadi kumuh dan rusak di beberapa bagian karena tidak digunakan dan kurang perawatan," imbuhnya.
Menurutnya, Schouwburg hanya didatangi oleh kalangan menengah ke atas saat itu. Sedangkan kalangan menengah ke bawah dan pribumi, tentunya tidak akan diperbolehkan memasukinya.
"Lalu siapa arsitek yang membuat Schouwburg, saya kurang tahu. Karena pada awal abad 19 itu memang belum ada arsitek di Semarang. Arsitek dari Belanda itu mulai datang sekitar 1900-an," ucapnya.
Baca Juga:Sambut Hari Raya Nyepi, Penerbangan Semarang-Bali Berhenti Beroperasi
Karena tidak diperbolehkannya pribumi masuk ke dalam Schouwburg. Sebagai bentuk reaksi masyarakat Jawa saat itu, akhirnya tercetuslah gedung pertunjukan versi masyarakat pribumi saat itu.
"Jadi ada pemikiran orang Jawa saat itu ayo kita bikin gedung pertunjukan sendiri untuk kesenian Jawa. Makanya muncullah Sobokartti itu sebagai bentuk reaksi. Yang mana desain Sobokartti dibuat oleh Thomas Karsten. Dia termasuk orang Belanda yang menghargai budaya Jawa," terangnya.