alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Soal Mudik Lebaran, Ganjar Sebut Lebih Banyak Warga Keluar Jateng

Budi Arista Romadhoni Jum'at, 30 April 2021 | 20:25 WIB

Soal Mudik Lebaran, Ganjar Sebut Lebih Banyak Warga Keluar Jateng
Ilustrasi sejumlah penumpang berada di dalam bus di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa (27/4/2021).Menurut Gubernur Jateng mudik lebaran tahun ini banyak yang keluar daripada masuk ke provinsi Jawa Tengah. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Menurut Ganjar, regulasi larangan mudik lebaran dibuat untuk mengantisipasi masyarakat yang ngeyel tanpa memperhatikan dampaknya

SuaraJawaTengah.id - Mudik lebaran resmi dilarang oleh pemerintah pusat dan daerah. Hal itu dilakukan agar tak terjadi gelombang Tsunami Covid-19 seperti di India.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pantauan mudik saat ini justru lebih banyak warga yang keluar Jateng daripada datang. Menurutnya, banyak warganya yang sudah menyempatkan pulang sebelum ada pelarangan.

“Mungkin karena sudah nggak ada kerjaan di sana dan memang ada situasi yang harus pulang dia pulang, dan ketika itu waktunya di luar ketentuan yang dilarang ya memang tidakpapa,” kata Ganjar, Jumat (30/4/2021).

Ganjar menilai, jika masyarakat bisa mengikuti aturan sebenarnya tidak perlu ada kebijakan ketat soal mudik. Regulasi yang muncul, kata Ganjar, dibuat lantaran masih ada yang tidak taat.

Baca Juga: Cek Poin Lebaran Sudah Aktif, Warga Surabaya Diminta Stay di Dalam Kota

“Kalau tidak taat kan bahaya, udah bahaya nular, kayak kejadian Pati yang jadi perhatian saya, karena ini dari mudik. Sudah dari mudik, ngundang wong, terus kemudian semua berkumpul, ya sudah,” ujarnya.

Jika persoalan aturan mudik sudah disepelekan, Ganjar menilai dampaknya akan mengkhawatirkan. Sebab pasti jadi potensi penularan yang tinggi.

“Maka saya memohon kepada masyarakat untuk ayo bareng-bareng kita jaga agar semuanya sehat, semuanya selamat,” tegasnya.

Regulasi yang ada, lanjut Ganjar, tak melulu persoalan pembatasan. Menurutnya, sebenarnya aturan itu hanya sebagai instrumen pengingat. Ganjar mengatakan, yang dibutuhkan adalah kesadaran.

“Tapi klau orang sudah sadar, ya saya sadar maka jalan. Seperti Taiwan, Taiwan itu satu negara kecil yang kenapa itu dilakukan karena masyarakat sadar. Yang meninggal sedikit banget, yang kena sedikit, yang meninggal kalau ga salah ga sampai 10 ya di taiwan. Itu semua mengatakan, ‘karena kami sadar untuk menjaga bersama-sama’, yang kita butuhkan narasi begini,” tandasnya.

Baca Juga: Imbauan MUI Riau Terkait Takbiran, Salat Tarawih dan Mudik Lebaran

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait