alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ganjar Menyangkal Kasus Covid-19 di Jateng Disebut Tertinggi: Itu Data Delay

Budi Arista Romadhoni Senin, 02 Agustus 2021 | 17:29 WIB

Ganjar Menyangkal Kasus Covid-19 di Jateng Disebut Tertinggi: Itu Data Delay
Gubernur Ganjar Pranowo melihat Depo Samator Gas Industry di Bawen, Kabupaten Semarang, Selasa (22/6/2021). Gubernur memastikan ketersediaan oksigen aman untuk kebutuhan rumah sakit dimasa pandemi. [Dok Pemprov Jateng]

Kasus Covid-19 di Jateng disebut-sebut tertinggi nasional, Ganjar pun menyebut ada keterlambatan data dari jateng ke pusat

SuaraJawaTengah.id - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menegaskan tren kasus Covid-19 di Jateng menunjukkan penurunan. Bahkan, Ganjar mengatakan kondisi Jateng sudah mulai membaik, setelah mengalami lonjakan kasus yang tinggi.

"Saya senang dapat laporan tenda-tenda di rumah sakit sudah di bongkar. Hari ini tenda di rumah sakit Tugurejo sudah dibongkar. BOR juga sudah aman. Tapi saya katakan jangan lengah dan tetap disiplin tinggi," kata Ganjar usai memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19 di kantornya, Senin (2/8/2021).

Meski menunjukkan angka penurunan, Ganjar mengatakan semua pihak harus tetap siaga. Sebab menurutnya, kalau tambahan kasus masih ribuan, maka itu belum baik.

"Kalau sehari tambah 87 kasus, di bawah 100. Itu baru baik. Kalau masih ribuan ya belum baik. Maka saya minta jangan lengah, kita butuh disiplin tinggi agar menurunnya tajam," imbuhnya.

Baca Juga: Penjualan Bendera Merah Putih Sepi di Medan, Pedagang: Pak Jokowi...

Ia juga mengomentari terkait berita beberapa waktu lalu yang menyebut kasus Jateng tertinggi nasional. Menurutnya, tingginya kasus Jateng itu dikarenakan adanya data delay yang diinjeksi.

"Data menjadi perbincangan. Jateng tertinggi, wah ramai sekali. Saya bilang, nggak papa, wong itu ada data delay. Ada data yang diinjek ke sana," terangnya.

Menurut Ganjar, masih ada data kasus dari Jateng yang belum terlaporkan. Dan itu di Pusat lanjut dia banyak.

"Maka data Jateng lebih tinggi dari data pusat. Yang terjadi, setelah data itu diklarifikasi, biasanya dari pusat dimasukkan. Itulah yang kita sebut data injek. Jadi disuntikkan karena dulu belum. Itu yang terjadi, sehingga kadang-kadang datanya seperti itu," tegasnya.

Selain data kasus Covid-19, Ganjar juga menyoroti data-data lainnya. Termasuk data kematian, penambahan kasus, kesembuhan, termasuk data vaksin. Menurutnya, data vaksin di beberapa Kabupaten/Kota masih belum diinput dengan disiplin.

Baca Juga: Tambah 22.404, Kasus Covid-19 Indonesia Tembus 3.462.800 Orang

"Tadi di rapat ada kasus, ternyata vaksin di beberapa Kabupaten/Kota masih banyak. Di aplikasi Smile itu masih banyak, kok mereka bilang sudah habis. Jangan-jangan sudah disuntikkan tapi belum diinput, atau jangan-jangan belum disuntikkan sama sekali," tegasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait