Jamasan Pusaka di Bulan Suro Bukan Ritual Mistis, Tapi Karena Mencintai Budaya

Banyak yang menyebut penjamasan pusaka adalah kegiatan mistis dan musrik, ini tanggapan para pelaku penjamasan pusaka

Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Agustus 2021 | 17:17 WIB
Jamasan Pusaka di Bulan Suro Bukan Ritual Mistis, Tapi Karena Mencintai Budaya
Konservator menata benda pusaka usai melakukan proses jamasan di Museum Pusaka, TMII, Jakarta, Selasa (10/8/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

“Dari beberapa pusaka di sini ada yang tiba-tiba muncul sendiri tanpa sengaja, kita menemukan saat sedang melakukan ritual semedi. Ada yang memang titipan dari kolektor. Ada juga yang pemberian dari seseorang yang merasa tidak mampu merawat lalu kami bersedia merawat,” ujarnya.

Warga Pedukuhan Ngawen, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul melakukan ritual jamasan pusaka, Jumat (13/8/2021). - (Kontributor SuaraJogja.id/Julianto)
Warga Pedukuhan Ngawen, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul melakukan ritual jamasan pusaka, Jumat (13/8/2021). - (Kontributor SuaraJogja.id/Julianto)

Sampai saat ini Ali Tuba memiliki 150 pusaka, terdiri dari 60 milik pribadi, dan sisanya merupakan titipan dari kolektor untuk dilakukan penjamasan.

Senada dengan Ali Tuba, seorang tokoh agama dan tokoh kebudayaan setempat

Kiai Nur Shodiq mengatakan bahwa pusaka-pusaka tersebut merupakan karya seni yang perlu dirawat untuk mengingatkan generasi berikutnya dengan perjuangan leluhur di masa lalu. 

Baca Juga:Mitos Malam 1 Suro dan Bedanya dengan 1 Muharram

“Merawat pusaka adalah upaya merawat ingatan, sebab pusaka-pusaka ini adalah sebuah karya seni yang sangat agung, yang mana para pembuat pusaka ini melakukan proses panjang, seperti tirakat dan semedi hingga menjadi senjata bagi para pejuang pada zaman dahulu,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini