Dapur Umum Kampung Tulung, Rumah Bersejarah yang Terancam Hilang

Tercatat 16 warga sipil dan 26 anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) tewas dalam penyerbuan tersebut.

Ronald Seger Prabowo
Rabu, 10 November 2021 | 17:37 WIB
Dapur Umum Kampung Tulung, Rumah Bersejarah yang Terancam Hilang
Rumah bekas dapur umum dan markas BKR di Kampung Tulung, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Saksi sejarah perjuangan kemerdekaan RI. [Suara.com/ Angga Haksoro Ardi]

SuaraJawaTengah.id - Rumah bekas dapur umum dan markas BKR di Kampung Tulung, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, terancam berpindah kepemilikan. Bangunan bersejarah yang dikhawatirkan akan hilang.

Bekas rumah Lurah Atmo Prawiro ini menjadi saksi sejarah pembantaian warga Kampung Tulung oleh pasukan Jepang pada 29 Oktober 1945.

Tercatat 16 warga sipil dan 26 anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) tewas dalam penyerbuan tersebut.

Sebagian warga yang dibunuh tentara Jepang adalah penduduk Kampung Tulung dan Dukuh.

Baca Juga:Mitos Watu Sekenteng Magelang, Desa Tenggelam Jika Yoni Dipindah

Mereka membuka dapur umum di Kampung Tulung untuk membantu menyediakan makanan bagi para pejuang.   

Pembantaian Kampung Tulung memicu “Palagan Magelang” yang berlangsung 31 Oktober hingga 2 November 1945. Palagan Magelang kemudian membesar dan meluas menjadi Palagan Ambarawa.  

Rumah beserta tanah seluas 1.040 meter itu diwariskan kepada anak serta cucu Atmo Prawiro.

Beberapa kali turun generasi, rumah kini ditempati Dofian Widarso (68 tahun) bersama anak dan ketiga cucunya.  

Dari simbah Lurah Atmo Prawiro, rumah diwariskan kepada anak perempuannya bernama Saminah. Kemudian diwariskan kepada putra Saminah yang pensiunan Camat Klirong, Kabupaten Kebumen.

Baca Juga:Kisah Pemuda Magelang Berangkat Haji 8 Bulan Naik Sepeda Onthel

“Terus saya jadi mantu anak yang kelima namanya Roro Windarti tapi sudah meninggal.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini