Menurut Basiyo, bahan sandal upanat diambil dari bahan alami yang tersedia di sekitar kawasan Borobudur.
“Dari bahan pandan dan mendong. Semua ada di sekitar bukit Menoreh sini. Kemudian jepit sandal dari batok kelapa, juga banyak di sekitar sini," tegas dia.
Sandal upanat dibuat dari anyaman daun pandan dan mendong. Bahan anyaman kemudian diberi alas sponge epa, bahan alas sepatu yang lebih keras dari busa namun lebih lembut dibandingkan karet.
“Kalau pakai sandal seperti ini kan sehat karena menyerap keringat. Kalau sandal dari plastik pasti nanti pegal-pegal di kaki. Dipakai enak dan nggak gampang capek. Juga ramah lingkungan,” kata Basiyo.
Baca Juga:Potret Bupati Magelang Naik Motor Polisi Patroli Kawasan Candi Borobudur
Nantinya pengelola Borobudur akan memberlakukan harga tiket berbeda untuk pengunjung yang naik ke struktur Candi Borobudur atau sekadar di pelataran.
Harga tiket pengunjung yang naik ke struktur candi lebih mahal karena sudah termasuk mendapat sandal upanat dan fasilitas pemandu.
“Sandal ini tujuannya memang untuk melestarikan batu candi, bukan sekadar souvenir. Kalau hanya untuk souvenir, nanti pengunjung akan komplain kok harga tiket (Borobudur) jadi naik dengan plus sandal,” kata Kepala BKB, Wiwit Kasiyati.
Selain menerapkan aturan wajib memakai sandal khusus, jumlah pengunjung yang naik ke struktur Candi Borobudur dibatasi 1.000 orang per hari. Jumlah itu berdasarkan perhitungan kapasitas maksimal struktur Candi Borobudur.
“Kami memikirkan bagaimana caranya meminimalisir pasir itu terbawa alas kaki. Karena yang membuat aus itu pasir. Akhirnya sandal yang dulu pernah kita kaji dan workshop kita angkat kembali,” ujar Wiwit Kasiyati.
Baca Juga:Rekomendasi 12 Tempat Wisata di Jogja Paling Terkenal, Spot Foto Terbaik
Kontributor : Angga Haksoro Ardi