facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jalan Lingkar Selatan Kudus Lumpuh, Sopir Truk Gelar Aksi Tolak Kebijakan Pemerintah

Budi Arista Romadhoni Selasa, 22 Februari 2022 | 13:18 WIB

Jalan Lingkar Selatan Kudus Lumpuh, Sopir Truk Gelar Aksi Tolak Kebijakan Pemerintah
Unjuk rasa ratusan sopir truk bersama armadanya di Kabupaten Kudus yang menolak kebijakan pemerintah terkait dengan pelarangan truk over dimension and overloading (ODOL) menutup akses Jalan Lingkar Selatan Kudus, Jawa Tengah, Selasa (22/2/2022). [ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif]

Unjuk rasa ratusan sopir truk terjadi di Kabupaten Kudus. Mereka menolak kebijakan pemerintah terkait dengan pelarangan truk over dimension and overloading (ODOL)

SuaraJawaTengah.id - Unjuk rasa ratusan sopir truk terjadi di Kabupaten Kudus. Mereka menolak kebijakan pemerintah terkait dengan pelarangan truk over dimension and overloading (ODOL). 

Demo sopir truk tersebut  menutup akses Jalan Lingkar Selatan Kudus, Jawa Tengah pada Selasa (22/2/2022).

Dalam aksinya itu, ratusan truk berbagai ukuran diparkir di sisi kiri ruas Jalan Lingkar Selatan Kudus yang berada di depan Terminal Induk Jati.

Sementara itu, di ruas sebelah kanan yang semula bisa dilalui juga dibuat parkir truk yang kebetulan melintas diminta ikut aksi sehingga ikut diparkir.

Baca Juga: Gaji Supir Truk di Indonesia: Ternyata Segini Kisarannya, Lengkap dengan Daerah yang Punya Bayaran Tertinggi

Akses Jalan Lingkar Selatan Kudus tersebut, tidak bisa dilalui mobil mulai pukul 10.10 WIB. Penutupan akses juga terjadi di perempatan Jalan Lingkar Kencing dan lampu merah depan DPRD Kudus.

Aksi para sopir truk masih berlangsung. Mereka menunggu hasil audiensi perwakilan pedemo dengan DPRD setempat.

"Tuntuan kami, aturan soal ODOL harus direvisi dan jangan buat aturan yang merugikan masyarakat kecil," kata sopir truk Muh Ali Ikhsan dikutip dari ANTARA.

Menurut dia, hampir semua truk ketika mengangkut barang mengalami kelebihan karena selama ini tarifnya tergolong murah. Untuk biaya operasional, kapasitas muatannya juga harus disesuaikan.

Kalau Pemerintah memberlakukan normalisasi ODOL sehingga harus ada perbaikan dimensi kendaraannya agar sesuai dengan ketentuan, menurut dia, akan terjadi lonjakan kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat karena mahalnya tarif jasa angkutan barang.

Baca Juga: Polemik soal Wayang Masih Ramai, Penceramah Ini Beberkan Perbedaan Pendapat Sunan Giri dan Sunan Kalijaga

Ia mencontohkan tarif pengangkutan pasir jika sebelumnya truk colt diesel dengan tarif Rp2,5 juta bisa mengangkut 16 ton pasir. Maka, dengan aturan baru yang tarif sama hanya bisa mengangkut 4,5 ton pasir.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait