Masyarakat Diminta Gunakan Energi Baru Terbarukan, Ternyata Bisa Mengurangi Banjir Rob, Ini Penjelasan Pengamat

Masyarakat diminta untuk mulai membiasakan menggunakan energi baru terbarukan guna menurunkan penurunan emisi gas rumah kaca, ini penjelasan pengamat

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 23 Maret 2022 | 09:38 WIB
Masyarakat Diminta Gunakan Energi Baru Terbarukan, Ternyata Bisa Mengurangi Banjir Rob, Ini Penjelasan Pengamat
Sejumlah warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi agar terhindar dari banjir rob yang merendam permukiman mereka di Desa Sriwulan, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Senin (1/6/2020). [ANTARA FOTO]

SuaraJawaTengah.id - Masyarakat diminta untuk mulai membiasakan menggunakan energi baru terbarukan guna menurunkan penurunan emisi gas rumah kaca.

Pasalnya, emisi gas rumah kaca selama ini telah banyak menimbulkan dampak lingkungan yang cukup serius, seperti rob yang terjadi di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Pengamat Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang, Dr. Ir. Djoko Suwarno, M.Si. mengatakan, emisi gas rumah kaca menyebabkan es di kutub utara dan selatan mencair, sehingga menyebabkan peningkatan permukaan air laut.

Akibatnya, sejumlah wilayah di pesisir, seperti Pekalongan kerapkali diterjang rob dengan kondisi yang cukup parah.

Baca Juga:Fakta-Fakta Ibu Gorok Tiga Anak di Brebes: Jalani Pemeriksaan Kejiwaan dan Mengaku Depresi Karena Usaha Bangkrut

"Ini diperparah juga dengan penggunaan air tanah, yang menyebabkan tanah menjadi turun. Selain itu, rob juga menyebabkan pengeluaran biaya untuk membangun jadi lebih mahal, karena harus menguruk tanah," katanya dari keterangan tertulis yang diterima Suara.com di Semarang, Rabu (23/3/2022).

Ditambahkan, dampak lain dari emisi gas rumah kaca, khususnya yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan rendah juga bisa menyebabkan sejumlah penyakit, seperti infeksi saluran pernafasan akut dan kanker. Bahkan, unsur Pb atau timbal pada BBM dengan oktan rendah juga beresiko pada janin.

"Yang berbahaya unsur dalam bensin itu ada kandungan Pb yang berbahaya bagi janin dalam kandungan ibu hamil. Maka, kita semua ayolah mengurangi BBM oktan rendah," imbuhnya.

Djoko juga mendukung program pemerintah dalam penggunaan Bio Diesel untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Namun demikian, pemerintah juga mesti memperhitungkan ketersediaannya, mengingat CPO juga digunakan untuk bahan baku minyak goreng yang dibutuhkan oleh masyarakat.

"Kami mendorong Bio Diesel tidak menggunakan 100 persen CPO. Kami sudah melakukan penelitian bahwa sebenarnya limbah dari kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan untuk bahan bio diesel," ungkap Djoko.

Baca Juga:Fakta-Fakta Ibu Gorok Anak Kandung, Suami Tak Kunjung Pulang-pulang Hingga Pernah Jadi Make Up Artist

Sementara itu, sebagai perusahaan energi yang telah berkiprah di kancah global, PT Pertamina (Persero) menegaskan kembali komitmennya sebagai perusahaan yang peduli pada aspek lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan yang baik. Salah satunya ditunjukkan dengan menetapkan program transisi energi sebagai prioritas utama perusahaan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini