facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ini Alasan Banyak Perempuan di Korsel Bekukan Sel Telurnya

Budi Arista Romadhoni Jum'at, 13 Mei 2022 | 13:10 WIB

Ini Alasan Banyak Perempuan di Korsel Bekukan Sel Telurnya
Ilustrasi program bayu tabung (ANTARA/Shutterstock/VerNel)

Banyak perempuan di Korsel memilih membekukan sel telurnya dan tidak terburu-buru memiliki anak, ini alasannya

SuaraJawaTengah.id - Banyak perempuan di Korea Selatan memilih membekukan sel telurnya dan tidak terburu-buru memiliki anak karena tingginya biaya perumahan dan pendidikan di negara itu.

Lim Eun-young, seorang pegawai negeri berusia 34 tahun, mengatakan dia belum siap untuk memulai sebuah keluarga karena biaya dan karena dia baru mulai berkencan dengan pacarnya beberapa bulan yang lalu.

Namun, khawatir tentang “jam biologisnya yang terus berdetak”, ia memutuskan membekukan beberapa sel telurnya pada November lalu.

Lim adalah salah satu dari sekitar 1.200 perempuan lajang yang belum menikah yang menjalani prosedur ini tahun lalu di CHA Medical Center. CHA adalah jaringan klinik kesuburan terbesar di Korsel dengan sekitar 30 persen pasar in vitro vertiization (IVF) atau proses bayi tabung.

Baca Juga: (G)I-DLE Umumkan Akan Gelar Tur Dunia Pertamanya, Jakarta Termasuk!

"Ini sangat melegakan dan memberi saya ketenangan pikiran dengan mengetahui bahwa saya memiliki telur sehat yang dibekukan di sini," kata Lim dikutip dari ANTARA Jumat (13/5/2022).

Membekukan telur untuk menunda waktu reproduksi adalah pilihan yang semakin banyak dieksplorasi oleh perempuan di seluruh dunia. Namun di Korsel, sebagai salah satu negara dengan tingkat kesuburan terendah di dunia, lonjakan dramatis angka perempuan yang menggunakan layanan CHA sangat melegakan beban ekonomi dan kendala sosial yang mengarah pada keputusan untuk menunda atau bahkan tidak memiliki anak.

Tingkat kesuburan—jumlah rata-rata anak yang lahir dari seorang perempuan selama masa reproduksinya—di Korsel hanya 0,81 tahun lalu, dibandingkan dengan tingkat rata-rata1,59 di negara-negara OECD pada tahun 2020.

Angka itu juga terlepas dari jumlah yang sangat besar yang dikeluarkan oleh otoritas Korsel untuk subsidi dan tunjangan untuk keluarga dengan anak-anak.

Pemerintah menganggarkan 46,7 triliun won (sekitar Rp530,6 triliun) tahun lalu untuk mendanai kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah di negara itu.

Baca Juga: A Special Lady: Selalu Ada Halangan untuk Niat Baik yang akan Dilakukan

Keengganan warga Korsel untuk memiliki anak utamanya disebabkan sistem pendidikan yang sangat kompetitif dan mahal, bukan hanya untuk sekolah tetapi juga les privat bagi kebanyakan anak sejak usia muda.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait