Kusnadi berujar ketika ia berusia belasan, ia acapkali berkunjung ke Bonbin Tegalwareng lantaran dekat dengan rumah.
"Nah sebelum Bonbin Tegalwareng dipindah Hasan mati karena tersengat listrik, kemudian gajah itu disembelihnya dan dagingnya dibagikan ke warga," tuturnya.
Selain Hasan yang menurut Kusnadi merupakan gajah dari Afrika, ia juga mengatakan ada sipanse yang dinamai Epen.
"Sipanse itu juga galak seperti Hasan, namun yang paling saya ingat ya Hasan karena mati kesetrum," paparnya.
Baca Juga:Para Agus Merapat! Nikmati Promo Masuk Gembira Loka Gratis di Hari Kemerdekaan, Syaratnya Mudah
Kenangan Bonbin Tegalwareng juga masih diingat betul oleh Wijanarko (60) warga Gajahmungkur Kota Semarang, saat ia kecil hampir setiap akhir pekan ia datang ke Bonbin Tegalwareng untuk menyaksikan koleksi hewan di sana.
"Betul ada Gajah yang namanya Hasan saat itu, tapi dikabarkan gajah itu mati karena tersengat listrik," ucapnya.
Wijanarko mengatakan terakhir berkunjung ke Bonbin Tegalwareng di akhir 1983.
"Setelah itu Bonbin dipindah ke Tinjomoyo yang ada di Gajahmungkur dekat dengan Kampus Unika. Usai dipindahkan saya pernah berkunjung ke sana namun tak melihat Hasan lagi," tambahnya.
Bonbin Tinjomoyo juga pernah beroperasinya puluhan tahun, dan direlokasi ke Mangkang pada 2007 silam. Kini Bonbin Mangkang jadi satu-satunya Bonbin di Kota Semarang dengan berbagai koleksi hewannya.
Baca Juga:Gajah Sumatera dan Trenggiling Meriahkan Upacara HUT RI di Bali
Kontributor : Aninda Putri Kartika