"Kalau belum mundur kantor akan saya segel. Semalam sudah ada penyegelan tetapi secara umum. Nah nanti ada penyegelan yang khusus untuk kantor kepala desa biar dia tidak bisa ngantor lagi," tuturnya.
Sementara itu saat dikonfirmasi, Waluyo membantah tentang tuduhan perselingkuhan yang dilakukan. Ia memiliki versi sendiri terkait kejadian penggerebekan yang dilakukan warga Kebocoran pada Senin (12/9/2022) malam.
"Kronologi yang ada di kebocoran. Sejak kecil saya lahir di Kebocoran bapak saya asli sana. Yang di fitnah itu masih sepupu saya. Waktu itu saya datang ke sana jam setengah 7. Intinya saya punya hutang di BRI Rp10 juta. Setiap tanggal 12 saya nyicil karena atas namanya orang itu," ungkapnya.
Dirinya berdalih bahwa yang menggerebek saat itu merupakan warga baru. Jadi tidak mengetahui latar belakang cerita Waluyo pernah hidup dan lahir di Desa Kebocoran.
Baca Juga:4 Tanda Dia Jodohmu, Salah Satunya Adalah Ketentraman
"Tiba-tiba ada pak RT datang. Loh wong pak kades biasa sering kesini ibunya asli sini. Ini ada demo terus demo apa? Ternyata yang demo itu warga-warga baru," kata Waluyo menirukan ketua RT setempat.
Selain surat pernyataan bertanda tangan dirinya yang beredar di media sosial, Waluyo mengklaim memiliki surat permohonan maaf dari seorang perempuan yang tertuduh menjadi selingkuhannya.
"Di surat pernyataan itu ada menerangkan jika saya harus menikahi yang bersangkutan harus ijin istri saya yang pertama. Jelas tidak diijinkan masa mau di poligami," terangnya.
"Ini sudah ada surat pernyataan baru dari pihak kebocoran intinya meminta maaf karena ada kesalahpahaman informasi. Tidak ada paksaan dari pihak sana atau pihak sana. Kenapa dulu saya menandatangani pernyataan pertama karena yang buat surat pernyataan itu sana, saya dipaksa," tutupnya.
Kontributor : Anang Firmansyah