Dikutip dari situs ypkp1965.org, tak lama setelah G30S, terjadi pembakaran dan perobohan rumah-rumah mereka yang dianggap terlibat G30S maupun pendukung PKI di Desa Sindangheula. Tak hanya rumah, pembakaran juga dilakukan terhadap gamelan dan wayang golek Sindangheula.
Sedangkan orang-orangnya, mereka ditangkap dan dianiaya beramai-ramai hingga sekarat dan tewas. Salah satu yang menjadi korban berdasarkan catatan YPKP 1965 adalah Herman, seniman penabuh kendang. Herman tewas karena keberingasan massa yang memburu orang-orang yang dianggap komunis.
Hasil kunjungan YKPP 1965 di Sindangheula juga mengungkap kisah Sayudi, pelaku sejarah sekaligus korban yang masih hidup. Sayudi yang pada saat kunjungan berusia 84 tahun menceritakan kala ia ditangkap ratusan orang yang memadati jalanan desa. Selain orang-orang dari kampungnya, beberapa dari massa yang dikawal aparat itu ia kenali berasal dari desa tetangga.
"Waktu itu orang-orang tengah beringas karena perintah pembasmian dari Soeharto yang rebut kuasa," kata Sayudi.
Baca Juga:Link Nonton Film G30S PKI Full Movie di Peringatan Gerakan 30 September
Setelah ditangkap, Sayudi diseret di jalanan desa dan dipukuli. Orang-orang yang memukuli meneriaki dirinya terlibat kudeta PKI di Jakarta. Padahal, Sayudi yang sehari-hari bertani sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di Ibu Kota.
Sayudi masih dapat mengingat rasa sakit luar biasa yang menderanya. Dipukuli hingga dihantam sebuah senjata yang disebut "ruyung kawung" membuat petani itu akhirnya terkapar tak berdaya dengan tubuh penuh luka. Kepalanya retak.
Tubuh Sayudi lalu dibiarkan teronggok di tepi jalan desa. Sempat dikira sudah meninggal, menantu seorang tentara itu ternyata masih hidup dan dihantui trauma mendalam di sisa usianya.
Catatan YKPP 1965, penyerbuan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat G30S juga terjadi di pedukuhan dan desa lain di Banjarharjo, di antaranya Lebakherang, Cijambe, Cipajang, Rembet, Penanggapan, Kertasari dan Cisadap. Sasarannya adalah mereka yang aktif berorganisasi seperti halnya Sayudi yang ikut Pemuda Rakyat dan kemudian menjadi anggota Barisan Tani Indonesia.
Beberapa dari mereka yang diburu akhirnya ditangkap lalu ditahan bertahun-tahun di sejumlah tempat tanpa pengadilan. Beberapa lainnya mati dieksekusi.
Baca Juga:Kisah Kampung Sambeng Solo Jadi Persembunyian DN Aidit: Tentara Datang Jam 3 Pagi, Warga Pria Dibawa
Menurut Wijanarto, tak diketahui berapa jumlah pasti korban peristiwa September1965 di Brebes, khususnya di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran operasi di Kecamatan Banjarharjo. Lokasi kuburan mayat-mayat mereka yang mati pun tak diketahui.