Saat mengetahui dirinya akan dijadikan pelacur, hati Jan Ruff O'Herne terguncang setengah mati. Bahkan dia sampai memeluk erat-erat gadis delapan tahun yang histeris didekatnya karena ketakutan.
Hari-hari berikutnya bak sebuah bencana, para Jugun Ianfu hanya bisa pasrah dan terpaksa silih berganti melayani hasrat seksual Tentara Jepang. Ada salah satu penyitas bersaksi di rumah bordil Futabaso, dia langsung diperkosa oleh seorang perwira yang sedang mabuk. Kemudian digilir oleh lima Tentara Jepang lainnya.
Setiap hari pola itu terus berulang, para penyitas seperti tidak dimanusiakan. Tentara Jepang tidak memiliki hati walaupun para penyitas merengek kesakitan. Yang ada dipikirkan Tentara Jepang hanya kepuasaan seksual.
Akibat tekanan dan perlakuaan yang tidak manusiawi dari Tentara Jepang tersebut. Tidak sedikit para penyitas yang mengalami nervous breakdown. Kejiwaan mereka terguntung, sehingga ada sebagian penyitas yang harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Selain itu, ada beberapa penyitas yang berusaha kabur. Bahkan ada satu atau dua orang yang memilih mengakhiri hidupnya.
Baca Juga:PSIS Semarang Taklukan Arema FC, Septian David Maulana Ciptakan Brace
"Namun, terdapat cerita dimana ‘klien’ menolak untuk berhubungan seks malah melindungi mereka. Ketika berada di Shoko Club, Jan Ruff menceritakan mengenai Yodi seorang Jepang, yang membelinya setiap malam guna menjaga Jan dari orang lain yang menggunakan jasanya. Yodi sendiri merasa malu dan meminta maaf kepada Jan atas perlakuan bangsanya terhadap Jan. Beberapa wanita bahkan secara sukarela melayani tamu, demi melindungi wanita lain yang lebih muda."
Berakhirnya Jugun Ianfu
Pada bulan April di tahun yang sama, datang perintah dari Markas Besar Jepang di Asia Tenggara kepada Jenderal Nozaki untuk melepaskan semua wanita yang dipaksa melayani hasrat seksual Tentara Jepang di Semarang. Hal tersebut karena ada protes seorang ibu yang tinggal di kamp Halmahera Semarang yang tidak terima dengan penangkapan anaknya.
Protes seorang ibu tersebut terdengar sampai ke telinga Kolonel Odajima dari Markas Besar di Batavia. Kolonel Odajima lalu menemui ibu tersebut dan merekomendasikan pelepasan Jugun Ianfu ke Markas Besar Angkatan Darat ke-16 di Saigon.
Tidak sedikit juga para Jugun Ianfu di Semarang dipindahkan ke kamp Kota Paris di Bogor dan kamp Kramat 3 di Batavia. Mereka semua mendapat perlakuan khusus di kamp yang mereka tempati.
Baca Juga:Hasil BRI Liga 1: Septian David Maulana Cemerlang, PSIS Gasak Arema FC 2-0
Tercatat selama satu bulan mendirikan empat rumah bordil di Semarang. Ada sekitar 100 wanita pribumi, India, Eropa, Tionghoa yang jadikan budak seks Tentara Jepang. Hingga berakhirnya penderitaan mereka, tidak semua para Jugun Ianfu mendapatkan keadilan.