- Pedagang barang bekas di Pasar Rejowinangun Magelang mengalami penurunan drastis jumlah pembeli hingga seperempatnya sejak enam tahun lalu.
- Penghasilan pedagang seperti Budiono menurun signifikan, dari Rp2 juta menjadi Rp900 ribu per bulan karena sepinya pengunjung.
- Penjual pakaian di pasar tersebut juga terdampak; banyak toko beralih menjual kebutuhan pokok karena daya beli masyarakat yang melemah.
SuaraJawaTengah.id - Lapak-lapak rombengan di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, banyak tampak tutup. Hari menyongsong siang, tapi lorong pasar loak masih lengang.
“Sekarang rombengan di sini sepi mas. Jam sepuluh pagi biasanya sudah nggak ada orangnya (pengunjung),” kata Budiono, pedagang buku dan jeriken bekas di Rejowinangun.
Pasar loak di mana pun berada, selalu memberi kesempatan hidup kedua bagi barang-barang bekas. Tapi di Rejowinangun, kesempatan hidup justru semakin sulit diraih oleh para pedagangnya.
Budiono sudah 6 tahun berjualan barang bekas di Pasar Rejowinangun. Dia menampung barang loak dari para pengepul di sekitaran Magelang.
Baca Juga:Dokter Spesialis Keliling, Mengantar Harapan Pulih Hingga ke Desa
Dulu kata Budiono, pembeli datang berombongan. Pasar ramai hingga siang. “Dibandingkan enam tahun lalu, sekarang jumlah pembeli paling tersisa seperempatnya.”
Penghasilanya merosot tajam. Jika dulu Budiono bisa mengantongi untung sekitar Rp2 juta per bulan, sekarang paling banter hanya Rp900 ribu.
Tiap hari Budiono membuka lapak sejak pukul 08.30 dan baru tutup pukul 2 siang. Tapi ketika pasar benar-benar sepi, ia memilih menutup kios lebih awal.
Setiap hari pembeli yang datang hanya 2 hingga 3 orang. Barang yang laku kebanyakan kertas bekas untuk pembungkus makanan. “Kalau lagi sepi, sehari paling bisa jual lima atau enam kilogram,” katanya.
Dengan harga kertas bekas Rp6 ribu per kilogram, pendapatan hariannya hanya berkisar Rp36 ribu. Dari jumlah itu, masih harus dipotong biaya sewa kios Rp1.200 per hari.
Baca Juga:Terlupakan dalam Sejarah: Kisah Heroik Soeprapto Ketjik di Magelang, Berani Melawan Tentara Jepang
Nasib Rombengan
Kebanyakan orang datang hanya untuk melihat-lihat. Selain buku dan jeriken, di los pasar rombengan juga dijual sepatu, barang elektronik serta baju bekas.
Saat pembeli tak kunjung datang, Budiono menghabikan waktu dengan duduk melamun. Jika bosan, sesekali ia berkeliling menyambangi sesama pedagang untuk sekadar ngobrol. “Pasar cepet sepi. Saya lebih banyak bengongnya.”
Menginjak 68 tahun, Budiono memilih bertahan menekuni pekerjaannya meski tanpa kepastian. Tidak banyak pilihan pekerjaan yang bisa dijalani oleh lelaki diusia senja.
Selain lapak barang bekas, di lantai paling atas Pasar Rejowinangun berjajar kios penjual pakaian dan penjahit permak pakaian. Beberapa kios menjual busana muslim dan jilbab.
“Sedih mas. Jualan jilbab juga sepi. Orang-orang pada nggak punya duit,” kata Safitri, salah satu penjaga toko busana muslim.
Dia mengingat selama 8 tahun bekerja menjaga toko, dua kali situasi pasar sepi pembeli. Pertama saat puncak pandemi Covid tahun 2020 sampai 2022 dan saat ini.
Safitri memperkirakan jumlah pengunjung pasar mulai berkurang sejak akhir tahun lalu. Sehari paling hanya 8 orang pelanggan yang melarisi dagangan jilbab.
Banting Kiri Toko Pakaian
Jika dulu toko yang dijaga Safitri hanya menjual busana muslim secara borongan, sekarang juga melayani eceran. Beberapa karyawan diberhentikan karena pemilik toko tidak mampu membayar upah.
“Sekarang yang jaga toko tinggal saya. Padahal dulu ada empat orang pelayan. Toko sepi, pekerja ya dikeluarin,” kata Safitri.
Pelanggan toko busana muslim tempat Safitri bekerja kebanyakan penjual pakaian yang membuka kios sendiri di rumah. Kios rumahan banyak yang tutup karena tidak ada pembeli.
“Dulu banyak banget bakul-bakul yang belanja ke sini. Sekarang paling 1-2 saja yang masih kulakan. Mereka nggak bisa bertahan. Kalau lihat sekarang, miris.”
Untuk bertahan hidup, kebanyakan pedagang pakaian memilih banting setir menjual barang-barang yang lebih laku. Orang lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan pokok ketimbang membeli pakaian.
“Toko-toko langganan kami banyak yang tutup. Milih pindah haluan jualan barang lain. Ada yang jualan makanan. Pakaian kan bukan kebutuhan pokok,” kata Safitri.
Pasar Lesu
Situsi pasar yang lengang, sejalan dengan kondisi ekonomi dalam negeri saat ini yang dihadapkan pada tantangan memulihkan konsumsi masyarakat. Daya beli masyarakat yang sempat tertekan pada 2025 belum juga pulih.
Sejak kuartal pertama tahun 2024, jumlah konsumsi rumah tangga terus berada dibawah 5 persen. Belanja rumah tangga diatas 5 persen, terakhir terjadi pada kuartal keempat tahun 2023 (5,05 persen).
Selama tiga kuartal terakhir tahun 2025, tercatat konsumsi masyarakat hanya naik pada level 4,89 sampai 4,97 persen.
Kisah Budiono dan Safitri menjadi potret kecil denyut pasar yang melemah ditengah ekonomi yang lesu.
Di Pasar Rejowinangun, barang-barang rombengan masih menunggu diberi kesempatan hidup kedua. Namun para pembeli yang datang memberi kesempatan itu, kini semakin jarang.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi