- Johar Lin Eng, yang dilarang seumur hidup oleh Komdis PSSI, terlihat hadir di laga final Liga 4 Jateng di Semarang.
- Kehadiran Johar di tribun kehormatan bersama petinggi PSSI menunjukkan pengabaian terhadap sanksi disiplin federasi.
- Insiden ini merusak citra reformasi PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir dan menimbulkan skeptisisme publik.
SuaraJawaTengah.id - Komitmen PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir untuk mereformasi total tata kelola sepak bola nasional kembali diuji secara terbuka.
Ironi besar terjadi di laga puncak Liga 4 Jawa Tengah yang mempertemukan Persak Kebumen dan Persibangga Purbalingga di Stadion Jatidiri, Semarang.
Alih-alih menjadi panggung sportivitas, acara ini justru menjadi sorotan tajam akibat kehadiran seorang figur kontroversial di tribun kehormatan.
Di tengah kehadiran para petinggi federasi, sosok Johar Lin Eng, mantan Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, tampak nyaman duduk di antara para tamu VVIP.
Baca Juga:Jawa Tengah Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Sepanjang Hari Ini, Waspada Potensi Cuaca Ekstrem!
Kehadirannya bukan sekadar anomali, melainkan sebuah tamparan keras bagi muruah PSSI. Sebab, berdasarkan keputusan Komite Disiplin (Komdis) PSSI pada Januari 2019, Johar Lin Eng telah dijatuhi sanksi berat.
"Keputusan Komdis PSSI pada Januari 2019 telah menjatuhkan sanksi larangan terhadap Johar Ling Eng beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI serta larangan memasuki stadion seumur hidup."
Putusan yang seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga integritas kompetisi itu seolah tak berarti di Stadion Jatidiri. Johar tidak hanya berhasil masuk, tetapi juga mendapat tempat terhormat, berdampingan dengan para pengambil kebijakan sepak bola nasional. Terpantau hadir sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, seperti Kairul Anwar (Plt Ketua Asprov Jatim), Muhammad (Plt Ketua Asprov NTB), dan Ahmad Riyadh (Plt Ketua Asprov Jateng).
Situasi ini sontak memicu pertanyaan fundamental: Apakah sanksi dari Komdis PSSI, yang merupakan badan yudisial federasi, dapat dengan mudah diabaikan? Siapa yang bertanggung jawab atas lolosnya individu yang dilarang seumur hidup masuk ke jantung acara resmi PSSI?
Kritik tajam pun mengarah pada panitia pelaksana (Panpel) lokal. "Panpel lokal juga dinilai tidak tegas dan tidak memedomani keputusan Komdis PSSI bahwa seorang individu yang telah diputus bersalah tidak boleh masuk kedalam stadion seumur hidup ini malah diperbolehkan masuk dengan duduk kursi tamu kehormatan."
Baca Juga:Alarm BMKG: Jateng Dikepung Hujan Ekstrem, Masyarakat Diminta Waspada!
Ini bukan kali pertama Johar Lin Eng terlihat di sekitar lingkaran kompetisi resmi. Sebelumnya, pada laga semifinal antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen (09/02), "Johar Ling Eng juga Diduga hadir mendampingi Exco Kairul Anwar yang juga merupakan Plt Ketua Asprov Jatim."
Rangkaian peristiwa ini, ditambah kontroversi lain seperti penunjukan wasit Dwi Purba Adi Wicaksana asal Kudus dalam laga semifinal yang sama, membangun narasi yang mengkhawatirkan.
Liga 4 yang semestinya menjadi kawah candradimuka bagi talenta-talenta daerah, justru terperosok dalam dugaan konflik kepentingan dan permainan politik elite.
Kehadiran para Exco PSSI di tengah berbagai kejanggalan ini menimbulkan persepsi di kalangan publik bahwa ada "tarik-menarik kepentingan politik sepak bola di balik kompetisi."
Insiden ini secara telak merusak citra reformasi dan transparansi yang selama ini digaungkan, serta membuat publik semakin skeptis terhadap keseriusan PSSI memberantas praktik lama yang merusak industri sepak bola.