- Aktivis muda NU asal Sumenep, Hendriyanto Attan, menerima gelar kehormatan dari Karaton Surakarta Hadiningrat pada 31 Agustus 2026.
- Karaton Surakarta menganugerahkan pangkat Riya Nginggil dengan gelar Kanjeng Raden Haryo Hendriyanto Attan Dharmawisisesa sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya.
- Penerimaan gelar tersebut menjadi amanah kultural untuk menjaga nilai luhur budaya Jawa serta kehormatan keraton di tengah masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Hendriyanto Attan, aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) menerima gelar kehormatan Kanjeng Raden Haryo (KRH) Hendriyanto Attan Dharmawisisesa dari Karaton Surakarta Hadiningrat.
Penganugerahan tersebut ditetapkan melalui Kakancingan Angka 313/KS/08/26 yang dikeluarkan Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat. Dalam naskah kakancingan tersebut, Hendriyanto Attan dianugerahi pangkat Riya Nginggil, sebagai bentuk penghormatan dari Karaton Surakarta Hadiningrat.
Gelar tersebut bukan sekadar tambahan nama di belakang seseorang. Bagi Keraton, gelar kebangsawanan sekaligus merupakan amanah agar penerimanya senantiasa menjunjung nilai-nilai luhur budaya Jawa, menjaga martabat serta kehormatan keraton, dan membawa nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.
Dokumen penetapan tersebut ditandatangani oleh Sinoehoen Tedjowoelan dan dilengkapi cap resmi Karaton Surakarta Hadiningrat. Penetapan itu tertanggal 31 Wulan Agustus Tahun 2026, bertepatan dengan 17 Mulud Tahun Be 1960 dalam penanggalan Jawa.
Penganugerahan gelar Kanjeng Raden Haryo kepada Hendriyanto Attan menjadi bentuk penghormatan Karaton Surakarta Hadiningrat kepada sosok yang dinilai memiliki dedikasi, pengabdian, serta kontribusi yang sejalan dengan nilai-nilai adiluhung budaya Jawa.
Dengan demikian, Hendriyanto Attan kini secara resmi menyandang nama kehormatan Kanjeng Raden Haryo Hendriyanto Attan Dharmawisisesa, S.Psi., M.M., sebagai bagian dari keluarga kehormatan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Aktivis Muda NU dari Sumenep
Lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, perjalanan Hendriyanto Attan memiliki keterkaitan menarik dengan sejarah panjang tradisi keraton di Nusantara.
Selama ini, ketika berbicara tentang keraton di Pulau Jawa, perhatian publik lebih sering tertuju kepada Yogyakarta dan Surakarta. Padahal, jauh di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep juga memiliki sejarah keraton yang panjang dan memiliki akar kuat dalam perjalanan sejarah Madura.
Keraton Sumenep bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan para raja yang memimpin wilayah tersebut. Dalam berbagai catatan sejarah lokal, Sumenep dikenal pernah diperintah oleh puluhan raja, dengan sejumlah tokoh meninggalkan jejak penting dalam perkembangan politik dan kebudayaan Madura.
Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Arya Wiraraja, yang dalam tradisi sejarah Sumenep disebut sebagai adipati pertama Sumenep dan dikaitkan dengan tanggal 31 Oktober 1269, yang kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep.
Arya Wiraraja dikenal bukan hanya sebagai seorang penguasa, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki kemampuan membaca situasi politik dan menyusun strategi. Dalam sejarah Nusantara, namanya bahkan dikaitkan erat dengan Raden Wijaya dan proses berdirinya Majapahit, termasuk perannya dalam menghadapi pasukan Tartar dari Mongol.
Jejak sejarah tersebut menjadi bagian dari identitas kultural Sumenep yang membentuk karakter masyarakatnya: dekat dengan tradisi, tetapi sekaligus memiliki pengalaman panjang dalam membaca perubahan zaman.
Dari tanah dengan tradisi kerajaan itulah Hendriyanto Attan tumbuh dan kemudian menapaki perjalanan di berbagai ruang pengabdian, mulai dari organisasi kemasyarakatan, dunia profesional, hingga lingkungan kebangsaan.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Attan dikenal sebagai aktivis muda NU. Ia juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PBNU serta Wakil Bendahara Majelis Nasional KAHMI.