Makan Bergizi Gratis Berujung Petaka di Pati: Makanan Datang Telat, Ratusan Siswa Keracunan

Ratusan siswa dan guru di Pati keracunan massal akibat keterlambatan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional akan beri sanksi suspend pada penyedia.

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 11 September 2026 | 14:32 WIB
Makan Bergizi Gratis Berujung Petaka di Pati: Makanan Datang Telat, Ratusan Siswa Keracunan
Perawatan siswi yang keracunan MBG di Kabupaten Pati. [Suara.com/Singgih Tri]
Baca 10 detik
  • Ratusan siswa dan guru di Gembong, Pati, mengalami keracunan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis pada 9 September 2026.
  • Keterlambatan distribusi makanan oleh penyedia SPPG Gembong 1 membuat waktu konsumsi melewati batas aman sehingga memicu gejala sakit perut.
  • Badan Gizi Nasional menjatuhkan sanksi skorsing kepada penyedia makanan serta menanggung seluruh biaya pengobatan korban di rumah sakit.

SuaraJawaTengah.id - Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akibatkan keracunan siswa dan guru di sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati ternyata ada keterlambatan. Hal itu dikonfirmasi oleh para kepala satuan pendidikan.

Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Gembong, Istiana mengungkapkan bahwa makanan yang biasanya tiba sebelum jam istirahat pertama pukul 09.30 WIB baru sampai di lokasi pada pukul 11.30 WIB di hari Rabu, 9 September 2026.

"Kami pun langsung membagikan makanan tersebut karena ompreng makan menginstruksikan MBG harus dimakan sebelum pukul 12.00 WIB," terangnya saat dikonfirmasi, Jumat, 11 September 2026.

Para siswa pun menyantap hidangan tersebut tanpa curiga. Bahkan ada yang meminta tambah dari jatah MBG temannya yang hari itu tidak berangkat sekolah.

Baca Juga:Trauma dengan MBG, Siswa di Pati Cerita Diare 5 Kali, Kepala Pusing hingga Mimisan Usai Makan

Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Pati, Zaenal Arifin, menyebutkan bahwa jatah makan yang biasanya dibagikan pukul 11.20 WIB baru tiba di sekolah setelah melewati pukul 12.00 WIB. Secara tampilan fisik dan rasa, makanan tidak menunjukkan tanda-tanda basi sehingga para siswa lahap mengonsumsinya.

"Anak-anak malah merasakannya enak," jelas Zaenal.

Telatnya pengiriman yang memotong waktu aman konsumsi ini berujung pada keluhan kesehatan yang meluas pada malam hingga keesokan harinya. Dampak dari molornya jadwal distribusi ini mulai disadari Rabu, 9 September 2026 ketika ratusan korban mendadak mengalami gejala mulas, sakit perut, dan diare.

Distribusi Terlambat

Menu makanan saat itu nasi bakar ayam suwir. Penyedia menu tersebut yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1.

Baca Juga:Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG

Kepanikan menyelimuti sejumlah keluarga siswa setelah muncul dugaan keracunan makanan di sejumlah sekolah. Seorang ibu bernama Andira harus menghadapi momen yang membuatnya cemas ketika mengetahui kondisi anaknya yang bersekolah di SMPN 1 Gembong.

Andira merupakan orang tua salah satu siswa kelas VIII yang menjadi korban dan harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Ia terlambat mengetahui kondisi anaknya karena sedang bekerja sif malam.

“Saya dapat kabar itu sudah termasuk telat ke sini. Posisi anak saya sudah ditangani di sini, sudah dipasangi oksigen dan segalanya,” ujar Andira saat ditemui awak media di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soewondo, kemarin, Kamis, 10 September 2026.

Sesampainya di lokasi, Andira mendapati anaknya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Kondisi sang anak ketika itu membuat Andira begitu terpukul. Tubuh anaknya disebut terasa sangat dingin dan tidak memberikan respons seperti biasanya.

Dokter kemudian meminta Andira mencoba berkomunikasi dengan anaknya. Andira pun berusaha mengajak anaknya berbicara, berharap ada respons dari sang anak.

“Coba diajak komunikasi, kayak ikatan batin,” tutur Andira.

Perlahan, kondisi sang anak mulai menunjukkan perubahan. Tubuhnya yang sebelumnya terasa dingin mulai menghangat, bahkan air mata sempat keluar dari mata sang anak.

Setelah sadar, anak Andira masih mengalami gangguan. Ia mengaku suara di sekitarnya terdengar seperti hilang dan muncul kembali.

Sang anak mengalami gejala gangguan pencernaan sejak sore hari. Selain diare, anaknya juga merasakan mual, tetapi tidak sampai muntah, hanya mual.

Keesokan paginya, sang anak masih berangkat sekolah. Bahkan sebelum berangkat, ia kembali mengalami buang air besar.

Setelah mengalami kejadian tersebut, anak Andira juga mulai merasakan trauma terhadap makanan MBG yang diterimanya. Sang anak bahkan mengungkapkan rasa takut untuk kembali mengonsumsi makanan tersebut.

“Duh, bikin trauma kayak gitu MBG-nya,” ujar Andira menirukan perkataan anaknya.

Ia meminta pihak yang bertanggung jawab memastikan makanan yang dibagikan benar-benar layak sebelum sampai ke tangan anak-anak.

“Benar-benar dipastikan itu layak untuk dikonsumsi anak,” harapnya.

Ia juga menyinggung persoalan waktu distribusi makanan yang disebut beberapa kali terlambat. Menurut informasi yang diterimanya dari anak, makanan yang diterima pada kejadian tersebut dalam kondisi sudah terlambat, bahkan makanan disebut sudah dalam keadaan kering.

Kondisi makanan juga membuat siswa kesulitan memastikan apakah makanan tersebut masih layak dikonsumsi atau tidak.

“Makanan sudah ketutup daun pisang, terus dibakar,” kata Andira.

Sanksi Berlaku

Di lain, tempat Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayor Jenderal (Mayjen) (Purn) Trenggono akan melakukan suspend ke SPPG yang bersangkutan. Hal tersebut sesuai komitmen pemerintah dan BGN jika SPPG tidak beroperasi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

"SPPG yang jelas di-suspend, kalau semakin jelek akan supend permanen. Itu sudah komitmen kita apabila ada dapur yang menyiapkan MBG tidak baik, dalam hal ini ada keracunan langsung kita suspend berat, kalau semakin jelek suspend permanen," tegas Trenggono kepada awak media, kemarin, Kamis, 10 September 2026.

Perlu diketahui, ada tiga kategori suspend, yakni suspend ringan selama 10 hari, suspend sedang selama 20 hari, dan suspend berat selama 30 hari. Sedangkan, jika terjadi peristiwa yang semakin parah maka SPPG akan ditutup permanen.

"Kalau suspend di atas 100 (korban) kategorinya berat, kalau semakin jelek ya permanen. Suspend ringan 10 hari, suspend sedang 20 hari, suspend berat 30 hari," lanjutnya.

Pihaknya berkomitmen memastikan secara detail SPPG untuk menyediakan menu makanan yang sehat dan bergizi. Ia tak ingin kejadian ini terulang lagi.

"Kami berkomitmen terus akan mengecek secara detail ke dapur-dapur. Kami langsung virtual maupun kunjungan ke dapur, supaya bisa menyiapkan makanan dengan baik. Kami harap tidak ada lagi, makanan yang disiapkan di MBG yang bisa menimbulkan kejadian seperti ini," bebernya.

Terkait dengan biaya pengobatan korban dugaan keracunan, pihaknya dan pemerintah daerah (pemda) akan menanggung seluruhnya.

"Kami sudah sampaikan ke bupati, semua obat ditangani pemda dan BGN. Biaya pengobatan tidak ada masalah sudah diatasi pemda dan BGN," pungkasnya.

Korban Hampir 500 Jiwa

Sebagai informasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati merilis sebanyak 242 orang bergejala akibat menyantap MBG dari SPPG Gembong 1. Sebanyak 58 korban dirawat inap, sementara sebanyak 322 korban dirawat jalan.

Kontributor: Singgih Tri

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini