Kesehariannya di Vatikan, mahasiswi S2 Studi Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata Semarang itu, tinggal menghuni di sebuah komplek Student Resident Komunitas The Lay Centre at Foyer Unitas, milik orang Amerika yang bekerjasama dengan pemberi beasiswa.
Dalam komplek hunian komunitasnya terdiri 24 mahasiswa dari 14 negara yang semuanya belajar di universitas kepausan. Di situ Dewi merasakan keharmonisan antar keyakinan sangat kental terasa.
"Kebebasan beragama sangat dihargai, bahkan saya disediakan alat shalat lengkap dan Alquran untuk beribadah. Ketika Ramadan juga selalu disiapkan sahur dan buka puasa," katanya.
Sepulang studi dari Vatikan, kekinian, Dewi kembali aktif pada rutinitasnya sebagai mahasiswa di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Respon positif dari lingkungannya pun dia dapatkan.
"Alhamdulillah responnya positif, harapan saya bisa kembali menyegarkan wawasan kita bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk bersaudara. Tapi ada juga sih komentar yang bilang katanya bukan muhrim," seloroh aktivisis Gusdurian merujuk komentar foto bersalaman dengan Paus Fransiskus.
Berikut isi kutipan paragraf ketiga dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate, sebagai dasar saling toleransi antar keyakinan:
3. Agama Islam
Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan *pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya.* Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.
Memang benar, disepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.
Kontributor : Adam Iyasa
Baca Juga: Dewi Mendadak Tersohor Setelah Minta Didoakan Paus Fransiskus, Ini Kisahnya
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup
-
Sinergi Fiskal dan Perbankan Diperkuat, BRI Siap Dorong Pembiayaan Sektor Produktif
-
Dana Transfer ke Daerah Dipangkas, Gus Yasin Pastikan Gaji ASN Jateng Tidak Terkendala
-
Semen Gresik Raih TOP BRAND AWARDS 2026, Bukti Tetap Menjadi Pilihan Masyarakat Indonesia
-
Smartfren Luncurkan Unlimited 5G di Semarang, Perkuat Jaringan Digital di Jawa Tengah