Reza Gunadha
Jum'at, 03 April 2020 | 16:18 WIB
Masjid Menara Kudus [Antara]

SuaraJawaTengah.id - Wabah virus corona Covid-19, selain masih meneror warga Indonesia, juga secara tak sengaja menyingkap kode rahasia yang terdapat pada Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah.

Saat pengelola masjid yang dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus—Wali Songo—tersebut menggulung karpet demi mencegah Covid-19, tersingkap pula inskripsi bersejarah.

Inskripsi adalah kata-kata yang lazim diguratkan pada batu monumen atau semacamnya. Di Masjid Menara Kudus, inskripsi itu dituliskan di dekat tiang penyangga yang selama ini tertutupi karpet.

Sebagai upaya pencegahan penularan covid-19, Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) melepas semua karpet dan sajadah yang ada di masjid cagar budaya itu. Langkah tersebut sejatinya sudah dimulai sejak 16 Maret 2020 lalu.

Setelah karpet digulung sebagai upaya pencegahan penularan covid-19, siapa sangka terpancar keindahan yang sesungguhnya dari desain interior masjid peninggalan Sunan Kudus tersebut.

Lantai teraso berwarna hijau tampil ke permukaan, menambah kesan sejuk dan damai di dalam masjid.

Dengan pencahayaan yang redup dan tiang-tiang berwarna cokelat, semakin nyatalah keserasian warna dari interior masjid tersebut. Maka, ketika memasuki ruang salat dalam masjid, pengunjung seolah dibawa ke era yang berbeda.

Nuansa historis yang sangat kental sungguh terasa pada bangunan yang sudah berdiri sejak 956 Hijriah tersebut.

Ditemukannya kembali tulisan penanda tahun renovasi Masjid Menara tersebut mengukuhkan usia tua bangunan cagar budaya peninggalan masa silam itu.

Ada sekitar dua hingga tiga tanda atau tulisan yang ditemukan pihak yayasan ketika pelepasan karpet sajadah dilakukan.

Pelepasan karpet itu seolah menjadi sarana untuk menguak sejarah dan proses pelestarian masjid yang kental dengan nuansa toleransinya ini.

Salah satu inskripsi di dekat tiang penyangga Masjid Menara Kudus. [Murianews-Anggara Jiwandhana]

Petugas Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Denny Nur Hakim lebih memilih untuk menyebut tanda tersebut dengan istilah inskripsi.

Inskripsi tersebut ditulis dengan aksara Arab dan satunya bertanda tahun masehi.

“Sebenarnya inskripsi ini sudah lama diketahui dan kami akan berunding secara internal untuk pengkajian ini,” ujarnya.

Dalam inskripsi tersebut, satu di antaranya bertuliskan 14X53 M serta 4II73 H di dekat tiang penyangga dalam masjid.

Soal ini, Denny menjelaskan kemungkinan besar artinya adalah waktu atau tanggal Masjid Menara Kudus sempat direnovasi atau tepatnya ditinggikan.

Kalender Masehi

Sementara kalau dicocokkan dengan kalender Masehi, lanjut Denny, inskripsi itu menunjuk pada 12 Oktober 1953, atau bertepatan dengan hari Senin Wage. “Sedangkan inskripsi 4II73H jika dibaca mungkin adalah 4 Shafar 1373 Hijriyah,” ujarnya.

Sementara soal keindahan interior Masjid Menara Kudus, pihaknya kini tengah mempertimbangkan untuk mempermanenkan peniadaan karpet sajadah. Langkah itu dinilai strategis untuk menonjolkan sisi historis yang selama ini belum terbuka.

“Jika nanti akhirnya dipermanenkan, maka mungkin hanya ada satu atau dua saf saja,” lanjutnya.

Upaya untuk pemolesan lantai masjid pun akan dilakukan. Guna lebih mempercantik dan lebih menonjolkan sisi lantai teraso yang menawan.

Dalam hal ini, pihaknya akan coba menyediakan alat khusus untuk membuat lantai lebih mengkilap. “Nanti kami siapkan alat pembersih lantai sehingga bisa mengkilap lagi,” terangnya seperti dikutip dari Solopos.com—jaringan Suara.com, Jumat (3/4/2020).

Sementara itu, salah satu jemaah Masjid Menara Kudus, Afifi Risky, mengaku terkejut dengan penampilan baru Masjid Menara.

Walau karpet sejatinya telah digulung sejak 16 Maret 2020 lalu, dia mengaku baru mengetahuinya baru-baru ini.

“Ini bikin nyaman kalau salat, lantainya jadi sejuk, nuansanya jadi lebih kental historinya. Walau yang kemarin juga terasa, tapi ini lebih terkesan megah dan menawan,” terangnya.