Scroll untuk membaca artikel
Chandra Iswinarno
Senin, 18 Mei 2020 | 15:04 WIB
Maulana Arif Budi Satrio. [Suara.com/Rara Puspita]

"Saya tetap puasa. Biasanya saya berhenti dini hari dan istirahat, lalu saya lanjut jalan lagi jam 6 pagi," ucapnya.

Selama menempuh perjalanan, dirinya berhenti di beberapa tempat. Diantaranya Cikarang, Tanjung Pura, Karawang dan Klari, Karawang.

"Pokoknya kalau capai saya istirahat," ucapnya.

Setelah sampai di Gringsing, kabupaten Batang Rio dijemput kawan-kawannya dari Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo). Awalnya, dia tidak memberitahukan pada kawannya terkait dirinya yang pulang dengan berjalan kaki. Namun, dia terpaksa memberi tahu salah satu temannya karena kesulitan memasuki Jawa Tengah.

Baca Juga: Pilu, Demi Teman Tetap Kerja, Pemuda Rela di-PHK sampai Harus Gadai Kamera

"Saya terpaksa bilang pada Ketua Peparindo karena saya kesulitan melalui perbatasan," ucapnya.

Bersama kawan Peparindo, dia diajak untuk istirahat di Semarang. Setelah istirahat beberapa saat dan mandi serta makan, dirinya diantar ke Grha Wisata, Solo.

"Saya sampai di Grha Wisata pada 15 Mei jam 08.00 WIB pagi," ucapnya.

Totalnya dia menempuh perjalanan ini selama empat hari, berjalan dari Cibubur, Jakarta Timur sampai Gringsing, Batang.

"Berarti tiap hari rata-rata saya jalan kaki 100 kilometer," ucapnya.

Baca Juga: Korban PHK Positif Corona, Meninggal saat Mudik Jalan Kaki 372 Km

Saat ini Rio hanya ingin menyelesaikan karantina di Grha Wisata dan kembali pulang. Untuk bekerja kembali, dia hanya menunggu kebijakan pemerintah pusat.

Load More