SuaraJawaTengah.id - Ratih Rejeki, masih syok dengan kejadian tewasnya anak pertamanya, FAR yang meninggal saat mengikuti latihan silat di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Raut sembab terlihat jelas dari air muka Perempuan berusia 34 tahun mengingat nasib nahas sang anak. Saat ditemui di rumahnya, dia sedang hamil besar
Ketika didatangi Kontributor Suara.com di rumahnya, Ratih mengingat detik-detik kejadian nahas yang menimpa sang anak pada Sabtu (7/7/2020). Kala itu, FAR pamit untuk mengikuti latihan kenaikan tingkat. Sebelum ujian kenaikan tingkat, anaknya memang diminta untuk berpuasa dulu. Sore sebelum berangkat latihan, FAR memang berbuka puasa. Selain itu anaknya juga membawa bekal untuk latihan.
Sudah selama setahun terakhir anaknya memang ikut berlatih silat di PSHT. Meski dia dan suaminya Danang Slamet Widodo (41) sejak awal tidak senang dengan anaknya ikut PSHT.
”Sebenarnya saya dan suami tidak suka anak saya ikut PSHT. Tapi dia nggak berani keluar, takut nantinya ada apa-apa. Makanya dia tetap ikut,”ucapnya saat ditemui di rumahnya di desa Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Selasa (7/7/2020).
Bahkan, orang tua FAR selama ini selalu mengalihkan hobi anaknya agar tidak hanya fokus pada PSHT. Orang tuanya rela membelikan merpati agar dia beralih hobi memelihara merpati.
”Dia juga suka adu balap merpati. Bahkan sama bapaknya, kemarin itu sebelum berangkat, siangnya dia juga adu merpati itu,” ucapnya.
Selama ini orang tuanya selalu mendukung FAR dalam semua hobi dan kesukaannya. Sejak kecil FAR merupakan anak yang berbakat dalam sepak bola. Dulunya, dia sering diajak teman-temannya untuk pertandingan antar kampung (tarkam). Saking seringnya tarkam, FAR bahkan dilirik oleh Kelas Khusus Olahraga (KKO) di SMPN 1 Solo.
”Dia kan dulunya ikut SSB. Bahkan sering pertandingan kemana-mana. Makanya dari sekolah olahraga yang ada di SMPN 1 Solo itu meminta dia sekolah disana. Tapi karena terlanjur masuk SMPN 2 Gatak, Sukoharjo, makanya dia nggak mau pindah,”ucapnya.
Baca Juga: Kematian ABG Korban Latihan Silat PSHT Janggal, Banyak Luka Lebam
Lulus dari SMPN 2 Gatak, FAR yang dikenal penurut ini sudah diterima di SMKN Muhammadiyah Kartosuro. Dia sudah mendapat kain untuk seragam sekolahnya. Saat upacara pemakaman kemarin, para guru dari SMK Muhammadiyah Kartosuro juga datang untuk melayat.
”Rencananya, hari Minggu kemarin itu dia minta dihantar ke penjahit. Tapi dia maunya baju seragam yang putih dulu yang dijahitkan. Lainnya belakangan,”ucapnya.
Kini Ratih dan suami hanya tinggal mendoakan supaya anaknya beristirahat dengan tenang. Dia juga berharap agar proses hukum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga tidak ada lagi orang lain yang mengalami seperti FAR.
”Sepertinya kan kejadian semacam ini sudah berulang kali, makanya saya berharap agar tidak ada anak lain yang mengalami nasib seperti anak saya,” kata Ratih.
Selain itu dirinya juga ingin mengumpulkan baju-baju anak sulungnya ini. Memang terlihat di depan rumah ada beberapa helai pakaian anak laki-laki yang tengah dijemur. Sebagian baju FAR memang sudah diambil oleh keluarga dan kerabat. Namun beberapa helai pakaian akan dikumpulkannya.
”Beberapa waktu lalu dia sempat bilang kalau bajunya bisa buat adik yang di perut,”ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor Listrik Terbaik Buat Ojol: Jarak Tempuh Jauh, Harga Terjangkau, Mesin Bandel
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- 5 Motor Listrik Fast Charging, Bebas Risau dari Kehabisan Baterai di Jalan
- 6 Bedak Padat untuk Makeup Natural dan Anti Kusam, Harga Terjangkau
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
Terkini
-
32 Tahun Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Warga Boyolali Akhirnya Merdeka Berkat Jembatan Garuda
-
Sapu dan Harapan: Cerita Penyandang Disabilitas di Balik Kebersihan Dapur MBG di Karanganyar
-
Dari Kebun ke Dapur, Petani Sayur Boyolali Temukan Harapan Baru Lewat MBG
-
Dari Sasak Rapuh ke Jembatan Kokoh Garuda, Akses Warga Pilangrejo Boyolali Kembali Lancar
-
Sarif Abdillah: Bank Daerah Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi Jawa Tengah