SuaraJawaTengah.id - Buang air besar (BAB) kadang menjadi ritual wajib saat orang akan mengawali aktivitas. Berlama-lama di WC ternyata tidak baik.
Dokter menyarankan, tak perlu berlama-lama saat menggunakan WC duduk untuk keperluan buang air besar (BAB) atau kecil, karena berisiko terkena wasir atau hemoroid.
"Duduk yang lama di toilet duduk menekan sekitar anus, karena menekan sekitar anus maka pembuluh darah balik terhambat, " ujar dokter spesialis bedah di Eka Hospital Bekasi, dr Benjamin Ngatio, Sp.B, dilansir dari ANTARA Kamis (22/10).
Wasir sendiri terjadi saat ada pelebaran pembuluh darah di daerah anus yang menyebabkan rasa tidak nyaman, muncul pendarahan dan benjolan yang keluar dari anus. Penderita juga bisa merasakan gatal di daerah anus hingga nyeri.
"Bagian dalam (anus) biasanya tidak nyeri. Biasanya keluhannya grade satu itu berdarah, benjolan keluar saat BAB. Kalau yang di luar (anus), benjolan cenderung menetap dan gejala yang sering dirasakan nyeri. Tetapi sering kali benjolan di dalam membesar sampai keluar sehingga benjolan sampai keluar masuk dan terasa nyeri," kata Benjamin.
Dokter bedah kolorektal, Karen Zaghiyan seperti dilansir Healthline menyarankan Anda menggunakan toilet duduk selama benar-benar ingin BAB. Jika Anda tak kunjung BAB setelah beberapa menit, jangan memaksakan diri.
Anda sebaiknya hanya menggunakan waktu maksimal 15 menit untuk BAB, karena jika melebihi itu bisa menjadi tanda ada mengalami masalah sembelit.
Jika perlu, cobalah setel pengatur waktu sehingga Anda akan tahu kapan harus menyelesaikan urusan ada di dalam toilet.
Menurut Benjamin, feses atau tinja yang keras sehingga membuat Anda mengejan bisa meningkatkan tekanan di sekitar anus sehingga pembuluh darah balik agak terhambat sehingga membuatnya membesar dan munculah benjolan. Jadi, selain menghindari duduk terlalu lama, usahakan feses Anda tak keras.
Baca Juga: Tidak Bikin Bodoh, Ternyata Micin Aman Dikonsumsi dan Justru Menyehatkan
Terkait benjolan yang muncul dari anus, sebenarnya belum tentu itu karena wasir. Khususnya pada pasien berusia lanjut, dokter perlu memastikan dulu tidak ada tumor pada usus.
Jika wasir terlanjur muncul, sebagai pengobatan pertama, Anda bisa memperbaiki pola makan yakni lebih banyak mengonsumsi makanan mengandung serat seperti sayuran dan buah karena bisa membantu mengurangi 50 persen gejala.
"Minum air banyak (mencukupi kebutuhan tubuh), maka tinja bisa lembek sehingga tak perlu mengejan," demikian kata Benjamin.
Berita Terkait
-
Koma Selama 15 Tahun, Pangeran dari Arab Saudi Menunjukan Keajaiban Ini
-
Konsumsi Banyak Obat, Bocah Ini Berakhir Menderita Sindrom Stevens-Johnson
-
Begini Awal Stigma Negatif Pasien Covid-19 Muncul di Masyarakat
-
Ilmuwan Sebut Covid-19 Mungkin Akan Jadi Endemik, Apa Artinya?
-
Kaki Kesemutan saat Tidur? Ketahui Kemungkinan Penyebabnya!
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Kabur ke Hutan Dua Hari, Dua Pria di Purbalingga Ditangkap dengan Bukti 23.198 Obat Keras
-
Wakil Ketua MK Ingatkan Bahaya AI: Jangan Sampai Mematikan Kemampuan Berpikir Kritis
-
Heboh Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Pati, Bapak dan Kakak Tiri Jadi Pelaku
-
Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR