SuaraJawaTengah.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Solo menggelar debat publik putaran kedua Pilkada 2020 dengan dua pasangan cawali-cawawali, Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyono-F.X. Supardjo (Bajo), Kamis (3/12/2020) malam.
Banyak hal yang sudah diperbincangkan dalam debat putaran kedua ini, salah satunya pada putaran kelima yakni sesi menjawab pertanyaan masyarakat yang diputar melalui video.
Pada kesempatan ini, seorang Pendeta memaparkan tentang kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang banyaknya bahaya perpecahan antar sesama manusia.
"Akhir-akhir ini kita membaca di media cetak, elektronik bahwa bahaya perpecahan mengancam, bukan dari luar tapi dari dalam. Bagaimana Anda menyikapi situasi ini dan tindakan konkret apa yang anda lakukan jika terpilih?" Tanya seorang pendeta tersebut.
Pasangan calon nomor urut 01 yang diwakili Teguh Prakoso memaparkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan tersebut, menurutnya pendekatan budaya akan diutamakan.
"Untuk menanggulangi bahaya perpecahan tersebut, pertama kami akan upayakan bagaimana kerukunan di Kota Surakatra, komunikasi dilakukan. Pendekatan budaya yang akan diutamakan agar mengurangi bahkan menghilangkan bibit-bibit radikalisme," jawab Teguh.
"Kedua, bersihnya dunia pendidikan, ini penting karena akan muncul bibit-bibit ke depan di sana. Ini perlu penanaman ideologi khususnya pancasila dan ini akan kita lakukan. Ketiga, komunikasi pada seluruh tokoh-tokoh agama, budaya, yang ada di Surakarta untuk membangun kebersamaan mengatasi agar media-media yang ada di Surakarta khususnya sosmed tidak digunakan semena-mena," sambungnya.
Mendengar jawaban tersebut, pasangan calon nomor urut 02 yang diwakili Bagyo Wahyono menanggapi jawaban yang diberikan Teguh.
"Fakta Kota Solo banyak terjadi gesekan yang memperkeruh persatuan. Gesekan itu terjadi antar ormas dan komoditas di Solo. Apa langkah agar kerukunan bisa terjadi?" Timpal Bagyo.
Baca Juga: Pentingnya Pilar Demokrasi Indonesia dalam Melaksanakan Pemilu
Gibran Rakabuming Raka menjawab pertanyaan dari Bagyo, dia mengatakan bahwa kerukunan beragama tidak bisa dipaksakan.
"Kerukunan beragama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, kerukunan beragama berasal dari diri kita sendiri. Kalo dipaksakan kerukunan itu akan semu. Makanya kami akan lakukan pendekatan budaya-budaya, kita ingin anak-anak aktif mempelajari budaya agar punya identitas kuat. Dan itulah yang akan memerangi intoleransi di Solo," jawab Gibran.
Reporter: Aditia Ardian
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- PP THR dan Gaji 13 Tahun 2026 Diumumkan, Ini Jadwal Cair dan Rincian Lengkapnya
- Selat Hormuz Milik Siapa? Jalur Sempit Banyak Negara Tapi Iran Bisa Buka Tutup Aksesnya
Pilihan
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
-
KPK Ungkap ART Fadia Arafiq Jadi Direktur PT RNB, Diduga Alat Korupsi Rp13,7 Miliar
-
Dua Hari Lalu Dinyatakan Gugur, Eks Presiden Iran Ahmadinejad Masih Hidup
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
Terkini
-
7 Fakta Banjir Lahar Gunung Merapi yang Tewaskan Penambang Pasir
-
7 Fakta Penggeledahan Koperasi BLN Salatiga Terkait Kasus Penipuan Investasi
-
Berbagi Kebaikan di Kota Surakarta, Bank Mandiri Gelar Buka Puasa, Santunan, dan Khitanan
-
Vonis 6 Bulan Penjara, Botok dan Teguh Langsung Bebas! PN Pati Jatuhkan Hukuman Percobaan
-
Perusahaan di Jateng Telat Bayar THR Bakal Disangksi, Begini Cara Melaporkannya