SuaraJawaTengah.id - Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berjalan satu tahun. Musibah non alam ini ternyata memberikan dampak yang luar biasa salah satunya kekerasan terhadap perempuan.
Dilansir dari Semarangpos.com, Organisasi masyarakat yang fokus mengurusi persoalan gender, Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRCKJHAM) menyebut sekitar 156 perempuan di Jawa Tengah (Jateng) menjadi korban kekerasan seksual selama setahun pandemi Covid-19 berlangsung.
“Data monitoring LRC-KJHAM di Jateng, di tahun 2020 tercatat ada 151 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah korban mencapai 156 orang. Kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Kepala Divisi Informasi dan Dokumentasi LRC-KJHAM, Citra Ayu Kurniawati, Selasa (9/3/2021).
Citra menambahkan dari 151 kasus itu, baru sekitar 96 kasus yang ditangani LRC-KJHAM. Jumlah tersebut tergolong meningkat dibanding kasus yang ditangani LRC-KJHAM pada dua tahun sebelumnya.
Pada 2018, LRC-KJHAM menangani sekitar 74 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sementara di 2019, jumlah kasus yang ditangani meencapai 84 kasus.
Kasus kekerasan terhadap perempuan, lanjut Citra tersebar di beberapa kabupaten/kota di Jateng. Sebaran paling banyak berada di wilayah Kabupaten Semarang, disusul Kota Semarang, dan Kabupaten Banyumas di peringkat ketiga.
Sementara di urutan keempat kasus terbanyak berasal dari Kabupaten Demak, dan urutan kelima ditempati Kabupaten Pekalongan.
Citra menambahkan kasus kekerasan terhadap perempuan paling banyak ditemui di Jateng adalah kekerasan seksual. Bahkan selama pandemi Covid-19, kasus kekerasan seksual ini semakin meningkat berupa kekerasan seksualonline atau berbasis siber.
“Bentuknya [kekerasan seksual online] adalah dengan meminta korban berhubungan seksual, kemudian merekam atau mengambil videonya. Pelaku mengancam menyebar video atau foto, meminta korban berfoto tidak senonoh, dan lain-lain,” tutur Citra.
Baca Juga: Kalis Mardiasih: Candaan Seksis Positifkan Istri saat Covid-19 Tidak Lucu
Citra mengatakan kekerasan terhadap perempuan seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat sedikit di permukaan. Namun, sebenarnya banyak kasus yang tidak terungkap atau dilaporkan. Terlebih lagi, jika pelaku kekerasan merupakan orang terdekat korban seperti pacar, saudara, teman, hingga keluarga.
“Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Ini supaya korban kekerasan seksual mendapat payung hukum yang jelas dan lebih terlindungi,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
BPK Audit 4 Sektor Strategis Pemprov Jateng, Taj Yasin Minta Seluruh OPD Buka Data
-
Dari Warung hingga Usaha Menengah, BRI Kucurkan Rp1.235 Triliun ke UMKM
-
BRI Makin Kokoh Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan, Laba Capai Rp31,2 Triliun
-
Meneladani Jejak R.M. Margono, UT Purwokerto Awali Rangkaian Halaqah dengan Ziarah dan Doa Bersama
-
Jateng Kejar Zero Sampah 2029, Ribuan Ton Sampah Disulap Jadi Listrik dan Bahan Bakar