Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Senin, 31 Mei 2021 | 18:39 WIB
Pameran dan Kontes Bonsai Songo Doyo, di Balkondes Tuksongo, Borobudur, Senin (31/5/2021). [Suara.com/ Angga Haksoro Ardhi]

Bonsai Butuh Proses Panjang

Membentuk bonsai sesuai dengan imajinasi pemiliknya tidak bisa dilakukan instan. Dibutuhkan puluhan kali pemangkasan dan pemasangan kawat untuk membentuk anatomi bonsai yang indah.

Proses membentuk bonsai adalah gabungan dari imajinasi kehendak si pemilik dan karakter dasar pohon. Tapi berbeda dengan melukis, proses seni dalam membentuk bonsai tidak bisa egois.

“Tidak bisa egois seperti pelukis. Kalau melukis kan imajinasi seniman bebas. Ada kanvas putih, cat, mau dibikin apa lukisan terserah seniman. Egonya keluar semua bebas. Di Bonsai tidak bisa seperti itu,” kata Andritopo, seniman bonsai.  

Baca Juga: Pariwisata Masih Sepi, Puluhan Kuda di Resor Ternama Bangladesh Mati Kelaparan

Andritopo yang kerap menjadi juri kontes bonsai mengatakan, imajinasi seniman bonsai dibatasi oleh karakter dasar pohon. “Ketika kita mau belokkan cabang ke salah satu arah tapi batangnya sudah tua, patah. Aku kepingin akarnya yang di atas, mati. Harus tahu keinginan pohon dan senimannya," ucap dia.

Pada kontes kelas dasar, penilaian menitikberatkan pada gerak dasar pohon. Anatomi pohon seperti bentuk akar, arah dan besar batang, menjadi materi utama penilaian.

“Yang pertama adalah gerak dasar. Itu basic si pohon. Akarnya seperti apa, arah batangya seperti apa, besar-kecilnya apa dalam anatomi. Kedua adalah konsep keinginan seniman. Dari situ kita jadikan angka. Itu penjurian di kelas dasar,” ujar Andritopo.

Pada penjurian kelas lanjutan, penilaian mulai masuk pada proses pembentukan bonsai. Di kelas ini jejak proses membentuk bonsai melalui banyaknya bekas cutting dan pengawatan, hingga mencapai bentuk yang diinginkan mulai diperhatikan.

“Ada bonsai yang 2-3 kali potongan cabang tapi belum keluar ranting. Ada yang baru sekali potongan cabang sudah perantingan. Nilainya bagus yang masih prutul (belum tumbuh ranting). Jadi kita menilai prosesnya," paparnya.

Baca Juga: Imbas Pandemi Covid-19, Ratusan SD dan SMP di Kabupaten Probolinggo Tanpa Kepala Sekolah

Aspek yang njelimet itu itu yang menyebabkan soal merawat bonsai tidak melulu membicarakan soal harga jual dan keuntungan. Banyak kolektor yang memiliki passion hanya menyimpan bonsai tanpa berniat menjualnya.

Load More