SuaraJawaTengah.id - Kasus COVID-19 di Indonesia melonjak secara cepat usai perayaan hari raya Idul Fitri. Virus corona varian Delta atau B1617.2 disinyalir telah menular.
Namun demikian, vaksinolog dan spesialis penyakit dalam dr Dirga Sakti Rambe menyebut kasus Covid-19 varian Delta bisa dihadapi secara efektif dengan merek vaksin COVID-19 yang akhir-akhir ini digunakan di Indonesia.
Program vaksinasi untuk umum berusia di atas 18 tahun menggunakan vaksin merek AstraZeneca, namun orang-orang yang sudah mendapat dosis pertama dengan merek lain pada April atau Mei akan diberikan vaksin merek sama ketika mendapatkan dosis kedua.
"Ada tiga merek vaksin di Indonesia, merek yang akhir-akhir ini digunakan efektif terhadap varian Delta. Merek vaksin awal yang digunakan di Indonesia belum ada laporan (efektivitas terhadap varian Delta)," kata dr Dirga dilansir dari ANTARA Kamis (18/6/2021).
Dia menegaskan, vaksin COVID-19 di Indonesia efektif dalam mencegah seseorang mengalami gejala-gejala sakit berat ketika terinfeksi virus, tapi bukan berarti mendapatkan vaksin berarti sudah kebal 100 persen dari penyakit.
Semua orang yang sudah divaksin masih bisa terkena COVID-19 atau menularkan virus, namun karena sudah memiliki antibodi, penyakit yang dialami tidak berat.
"Beberapa mutasi menunjukkan vaksin jadi kurang efektif, tapi secara umum masih efektif. Tugas kita untuk mencegah virus bermutasi adalah menekan penularan, agar penularannya terhenti," kata dia.
Dirga mengingatkan, vaksinasi tidak boleh membuat orang-orang menjadi lengah. Protokol kesehatan dan prinsip 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tetap harus dipatuhi.
"Tidak ada vaksin yang 100 persen efektif, bukan berarti divaksin lalu bebas kumpul-kumpul," jelas dia.
Baca Juga: Waspadai Virus Corona Varian Delta Makin Meluas di Indonesia, Kemenkes Lakukan Upaya Ini
Otoritas terkait masih menelusuri asal mula kemunculan varian Delta (B 1617.2) yang banyak ditemukan di daerah Kudus, Jawa Tengah dan Bangkalan, Jawa Timur, kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam keterangan resmi, Rabu (16/6/2021).
Untuk memetakan persebaran virus ini, penelitian masih dilakukan melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS) atau surveilans meski belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Varian baru dari suatu virus muncul karena upaya virus untuk bertahan hidup. Proses mutasinya akan berlangsung terus-menerus apabila potensi penularan tersedia.
Oleh karena itu, jika penularan masih terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat, maka peluang virus untuk bermutasi masih ada.
Agar tercipta kekebalan komunal di Indonesia, sebanyak 181,5 juta rakyat harus mendapatkan vaksin COVID-19 atau 70 persen dari total penduduk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
Terkini
-
Jelang EPA U-19, Kendal Tornado FC Youth Simulasi Jadwal Kompetisi
-
Kecelakaan Maut di Blora! Truk Rem Blong Tabrak 5 Motor, Satu Orang Tewas
-
Horor di Tol Semarang-Solo! Tronton Diduga Rem Blong Hantam 2 Truk, 1 Tewas di Tempat
-
Naik Vespa, Taj Yasin Tinjau SPBU untuk Pastikan Ketersediaan BBM di Jateng Aman Jelang Lebaran
-
Waspada! BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca di Semarang, Potensi Hujan Lebat Disertai Petir