"Komorbid adalah salah satu indikasi untuk dirawat di rumah sakit. Terlebih bila komorbidnya lebih dari dua penyakit maka dianjurkan untuk dirawat seperti pasien COVID gejala sedang. Namun, orang dengan komorbid boleh isoman bila kondisinya terkontrol dengan obat rutin," ujar dr. Jeffri.
Selama isoman, orang dengan komorbid disarankan tetap rutin meminum obatnya dan memantau saturasi oksigen.
Lansia biasanya minum banyak obat atau polifarmasi sehingga perlu dipantau oleh dokter berkaitan dengan obat yang harus dilanjutkan, obat yang perlu dihentikan dulu sementara, dan obat yang dosisnya perlu disesuaikan atau diganti.
Pada pasien diabetes misalnya, biasanya kadar gula darah naik karena COVID-19, sehingga memerlukan injeksi insulin. Bila minum polifarmasi, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.
Obat dan suplemen yang harus disiapkan
Persediaan obat selama isoman biasanya menjadi perhatian pasien. Menurut dr. Jeffri, sekarang banyak tersedia paket isoman yang dikemas dalam boks dan dilengkapi daftar obat beserta dosisnya.
"Kita harus kritis dan tahu, apa saja isinya. Jangan cuma terima paket dan langsung minum obatnya. Di dalam paket banyak sekali obat, bisa belasan," kata dr. Jeffri.
Hal pertama yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi obat selama isoman adalah cocokkan obat dengan daftarnya. Cek diri sendiri, Anda masuk dalam kategori mana; OTG, ringan, sedang, atau berat.
Setelah itu cek pedoman yang sudah disusun. Untuk gejala ringan obatnya lebih sederhana, cukup vitamin C, D, zinc, juga vitamin B dan E. Terkadang ada obat yang ditambahkan, biasanya antivirus (favipiravir), dan mungkin juga antibiotik.
Baca Juga: Kontak Erat dengan Penderita COVID-19? Jangan Langsung Tes, Karantina Dulu 5 Hari
Namun harus ada indikasinya, dan biasanya ditemukan oleh dokter/nakes. Untuk antibiotik, indikasinya yaitu infeksi sekunder, biasanya oleh bakteri H. influenza atau Strepococcus.
Kedua bakteri ini sering menjadi infeksi oportunistik pasien COVID-19. Kalau ada tanda infeksi bakteri ini, apalagi ada tanda atipikal/tidak khas, boleh diberikan antibiotik dan biasanya azithromycin.
Jika ada gejala batuk, dahak diperiksa dulu dengan pemeriksaan lab apus, untuk mengetahui apakah ada kuman infeksi sekunder.
Pada gejala berat juga diperlukan antivirus, dan bisa dipertimbangkan antikoagulan (pengencer darah). Ini harus berdasarkan pertimbangan atau resep dokter dan tidak boleh sembarangan.
Untuk gejala berat, juga diperlukan steroid. Biasanya jika ada penurunan saturasi oksigen, sehingga perlu oksigen.
Akan tetapi, dr. Jeffri mengatakan bahw terdapat salah kaprah mengenai hal ink. Di dalam paket isoman terdapat steroid tablet, padahal yang dianjurkan adalah steroid infus/IV, bukan yang tablet. Untuk steroid tablet, bukti ilmiahnya untuk COVID-19 belum jelas.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Jelang EPA U-19, Kendal Tornado FC Youth Simulasi Jadwal Kompetisi
-
Kecelakaan Maut di Blora! Truk Rem Blong Tabrak 5 Motor, Satu Orang Tewas
-
Horor di Tol Semarang-Solo! Tronton Diduga Rem Blong Hantam 2 Truk, 1 Tewas di Tempat
-
Naik Vespa, Taj Yasin Tinjau SPBU untuk Pastikan Ketersediaan BBM di Jateng Aman Jelang Lebaran
-
Waspada! BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca di Semarang, Potensi Hujan Lebat Disertai Petir