"Setiap hari butuh untuk memasak, harga gas kan lumayan,"ujar dia.
Untuk menghasilkan gas alami, Fahrudin menyiapkan tempat untuk menampung kotoran dengan kapasitas 20 kubik. Penampung tersebut terpendam dalam tanah persis dibawah kandang sapi. Sehingga ia cukup menyapu kotoran setiap pagi dan sore kedalam lubang yang sudah disediakan.
Kemudian, gas akan keluar melalui pipa paralon yang sudah dipasang ke rumah warga setiap harinya. "Dari awal menaruh kotoran untuk bisa jadi gas butuh waktu 15 hari, tapi karena ini sudah berjalan lama jadi setiap hari bisa menghasilkan gas," jelas dia.
Fahrudin menyebut gas dari kotoran sapi relatif aman dan minim ledakan meski menggunakan instalasi sederhana. Kendalanya, sambungnya, hanya pada aliran gas yang kadang kecil ketika digunakan saat bersama sama.
Susah Membawa Berkah"Ini yang disebut susah membawa berkah, susahnya harus bangun malem malem untuk masak dan berkahnya bisa menghemat gas LPG," ungkap Waryati (58) salah satu pengguna biogas di Desa Karang Jambe. Ia memaklumi bahwa untuk menghemat dirinya harus berjuang dengan memasak di tengah malam.
Namun ketika ia menyalakan kompor biogas di siang hari, nyala api terlihat besar dan biru. "Kalau lagi ndak ada yang pakai ya apinya besar, bahkan saya kalau apinya besar buat goreng takut gosong jadi yang kompor ini seringnya buat merebus, jadi lebih cepat, " Jelas dia.
Ia baru bergabung menjadi pengguna biogas kotoran sapi sejak April lalu dengan membayar Rp 450 ribu. Biaya tersebut digunakan untuk alat dan pemasangan instalasi berupa pipa penyalur gas dan kompor.
Sejak pembayaran awal hingga kini, dirinya tak pernah dimintai retribusi. Gas itu diberikan secara grati kepada masyarakat.
"Dari saya masang sampai sekarang tidak ada penarikan, " Kata dia.
Baca Juga: VIRAL LAGI Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono Sebut Gus Dur Picek Alias Buta
Dengan begitu, ia sudah menghemat 2 tabung gas LPG setiap bulannya. Dari semula biasanya butuh 5 tabung, saat ini hanya 3 tabung.
Dirinya masih menggunakan tabung LPG sebagai cadangan jika ia membutuhkan sewaktu waktu. "Buat cadangan waktu saya butuh kepepet dan apinya kecil kan bisa pakai LPG, jadi tetap irit, " Ujar dia.
Nampak selang gas bercabang diatas kompor milik Waryati. Ternyata, selain untuk gas pengganti LPG, gas kotoran sapi juga dimanfaatkan untuk penerangan.
Ia kemudian memutar keran salah satu pipa yang berada diatas kompor. Lalu ia menarik kursi dan menaikinya dengan membawa korek api.
Seketika sarung api petromak menyala dan menerangi satu ruangan. "Saya pakai ini kalau listrik mati, dan kalau pingin lebih hemat listrik juga bisa diganti pakai ini, " Terang dia sambil menunjukkan lampu petromak yang digantung diatap dapur.
Kontributor : Citra Ningsih
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
Terkini
-
Jelang EPA U-19, Kendal Tornado FC Youth Simulasi Jadwal Kompetisi
-
Kecelakaan Maut di Blora! Truk Rem Blong Tabrak 5 Motor, Satu Orang Tewas
-
Horor di Tol Semarang-Solo! Tronton Diduga Rem Blong Hantam 2 Truk, 1 Tewas di Tempat
-
Naik Vespa, Taj Yasin Tinjau SPBU untuk Pastikan Ketersediaan BBM di Jateng Aman Jelang Lebaran
-
Waspada! BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca di Semarang, Potensi Hujan Lebat Disertai Petir