SuaraJawaTengah.id - Dalam kurun waktu 10-15 tahun Kota Semarang diprediksi terancam tenggelam. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika pemerintah dan masyarakat kompak untuk mengantisipasinya.
Diketahui, Kota Semarang, merupakan salah satu wilayah yang langganan banjir rob. Hampir setiap tahun wilayah ibu kota provinsi Jawa Tengah itu digenangi air laut akibat banjir rob.
Mengapa banjir rob bisa terjadi? Dan bagaimana antisipasi jangka pendek agar Kota Semarang tidak tenggelam?
Menyadur dari Solopos.com, banjir rob merupakan bencana tahunan yang menjadi masalah di Kota Semarang. Bukan hanya terjadi pada musim hujan saja, banjir juga bisa menggenangi permukiman dan jalanan pada musim kemarau.
Banjir di Semarang terjadi akibat pasang surut air laut atau yang biasa disebut dengan istilah rob. Jika laut sedang pasang, maka gelombang air akan menghempas sampai ke daratan yang menyebabkan rob.
Kondisi pesisir Semarang saat ini sedang dibayangi krisis lingkungan. Jurnal yang diterbitkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan bahwa garis pantai di pesisir Semarang mengalami abrasi yang amat memprihatinkan.
Pada rentang 1972-1992 garis pantai di beberapa wilayah di Semarang mundur sekitar 500 meter. Bukti nyata abrasi di Semarang dapat dilihat di kawasan utara, tepatnya di Kampung Nelayan Tambaklorok.
Sejumlah daratan di sana telah ditenggelamkan air laut. Bahkan TPU Tambaklorok di kawasan pesisir Semarang itu kini sudah hilang tenggelam bersama air laut sejak 2012.
Baca Juga: 442 Sekolah di Kota Semarang Gelar Pembelajaran Tatap Muka, Hendi: Situasi terkendali
Meskipun demikian masih banyak warga yang datang ke wilayah tersebut untuk mendoakan leluhur mereka yang dimakamkan di TPU Tambaklorok yang kini sudah berubah menjadi bagian dari lautan.
Penggunaan Lahan
Kesalahan pemanfaatan lahan di pesisir Semarang juga menjadi salah satu penyebab banjir rob. Wilayah pantau yang secara alami berguna menampung pasang surut air laut justru dimanfaatkan sebagai tambak, rawa, persawahan, hingga permukiman. Hal ini membuat air laut tidak bisa tertampung sehingga menggenangi kawasan yang posisinya lebih rendah.
Penurunan Muka Tanah
Kondisi ini diperparah dengan penurunan muka tanah di wilayah Semarang, khususnya bagian pesisir yang berdekatan dengan Laut Jawa. Sejumlah hasil penelitian yang ditelusuri Solopos.com, Kamis (2/9/2021) menunjukkan fakta bahwa penurunan tanah di Semarang dan pesisir pantai utara Jateng mencapai 10 cm per tahun.
Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Dr. Heri Andreas, saat berbincang dengan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, di Rumah Dinas Gubernur, Rabu (1/9/2021), menyarankan Pemprov Jateng untuk mengurangi eksploitasi air tanah untuk menghentikan land subsidence atau penurunan muka tanah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah