SuaraJawaTengah.id - Marwiyah (55) pedagang di Pantai Widarapayung, Kabupaten Cilacap, menjadi korban selamat pada peristiwa Tsunami. Kala itu, selepas azan ashar, Senin 17 Juli 2006, tengah berdagang seperti biasanya.
Memang pada hari kerja, jumlah wisatawan yang berkunjung tidak seramai saat akhir pekan. Namun dirinya tetap berjualan demi kebutuhan rumah tangga. Waktu itu, ia menjadi satu-satunya warung yang berjualan. Sebelah warungnya entah keperluan apa, memilih tutup.
Ia tidak mungkin melupakan kejadian pada sore itu, bukan pembeli yang diharapnya datang, malah air bah tsunami setinggi atap warungnya yang menyapu rata bangunan semi permanen seisinya.
Gempa dengan kekuatan 6,8 SR di lepas Pantai Pangandaran menjadi penyebabnya.
Baca Juga: Usai Laga PSCS vs AHHA PS Pati, Fasilitas Ruang Ganti Stadion Manahan Diduga Dirusak
Meskipun tergolong besar, Marwiyah mengaku tidak merasakan gempa tersebut. Oleh sebabnya, ia tidak mengungsi ke tempat yang lebih tinggi setelah gempa mengguncang.
"Kejadian begitu cepat. Saya tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Dagangan, uang, harta saya yang ada di warung hanyut semua," katanya saat ditemui Suara.com, Kamis (7/10/2021).
Ia tak menyangka berhasil selamat dalam kejadian itu. Air bah menyapu pesisir pantai sejauh 1 km an. Saat terseret dirinya berusaha meraih apapun yang ada untuk tetap bisa di atas permukaan air.
"Saya saat itu pegangan batang pohon kelapa. Dari situ saya hanya berharap air dapat segera surut. Hampir tidak menyangka saya bisa selamat. Karena teman saya ada dua orang yang saya kenal, meninggal dunia dan ditemukan di aliran Sungai Sawangan," jelasnya.
Beruntung dirinya hanya mengalami luka lecet biasa sehingga bisa berjalan pulang setelah air surut. Namun kondisi tubuhnya sudah compang-camping dipenuhi pasir bercampur lumpur. Bahkan ia sempat menyelamatkan dua orang anak yang mengambang di permukaan laut dengan kondisi masih hidup.
Baca Juga: Klubnya Atta Halilintar AHHA PS Pati Keok Lagi, Kali Ini Dipecundangi PSCS Cilacap
"Itu anak saya seret di atas air. Kondisinya masih hidup, tapi saya tinggalkan di tempat yang lebih aman. Karena setelah itu, anak saya menjemput menggunakan motor di gerbang pintu masuk. Begitu sampai rumah keluarga saya yang lain sudah mengungsi. Saya disuruh langsung mengungsi tapi dengan kondisi yang kotor akhirnya saya mandi dulu," terangnya.
Berita Terkait
-
Peringatan Dini Tsunami di Underpass Bandara YIA, BNPB: Supaya Masyarakat Waspada, Bukan Menakuti
-
Tapanuli Utara Diguncang Gempa Selasa Pagi, BMKG Ungkap Penyebabnya!
-
Alat Pendeteksi Gempa dan Tsunami di Sidrap Dicuri, BMKG: Sudah 4 Kali!
-
Efisiensi Anggaran Prabowo, BMKG Jamin Alat Pemantau Gempa Bumi dan Tsunami Tak Terdampak
-
Gempa M 5,2 Guncang Tanimbar Maluku, BMKG: Masyarakat Diminta Waspada
Tag
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
Terkini
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025
-
Hindari Bahaya, Polda Jateng Tegaskan Aturan dalam Penerbangan Balon Udara