"Panik saya, mau ikut ngungsi jelas tidak mungkin karena ibu saya tidak bisa bangun (sakit). Sedangkan saya hamil 8 bulan. Suami saya bilang 'tenang tidak bakal ada tsunami kita disini saja'. Seandainya pun ada tsunami kita mati bareng-bareng," katanya saat ditemui.
Jarak dari lokasi ia tinggal dengan Pantai Kemiren hanya berkisar 500 meter. Terpisah oleh jalan raya dan area persawahan. Dirinya sudah tinggal di sini sejak tahun 2004. Saat kondisi perumahannya masih sepi tidak seperti sekarang.
"Setelah gempa tidak ada bangunan yang ambruk, karena perumahan sini masih sepi. Tidak ada korban jiwa. Tapi semua pada berhamburan keluar karena takut sih. Jalannya macet karena akses jalan hanya satu saja. Jadi kalaupun keluar buat ngungsi pasti bakal kena macet. Kalau misal lari masih mungkin untuk bisa menembus kemacetan," ungkapnya.
Selama ini, dirinya mengaku sangat minim simulasi dan sosialisasi dari pemerintah daerah jika seandainya ada gempa dan tsunami terjadi. Ia hanya mengetahui jika akan ada tsunami sirine di masjid tempatnya tinggal akan berbunyi keras.
"Beberapa kali sirine itu dibunyikan untuk mengecek fungsinya. Karena katanya kalau tidak sering dicoba kan bakal rusak. Saya cuma dikasih tahu lokasi jalur evakuasinya. Terus harus menyelamatkan diri di tempat gedung yang lebih tinggi seperti sekolahan," terangnya.
Ia sebenarnya merasa takut hidup di pesisir pantai selatan Jawa Tengah yang rawan gempa dan tsunami. Namun berdasarkan pengalamannya menghadapi ancaman tsunami, Pulau Nusakambangan menjadi tameng alami ancaman gelombang tinggi yang bisa menyampu bersih kawasan Kota Cilacap.
"Sebenarnya saya takut, tapi kan di sini ada Pulau Nusakambangan. Dahulu waktu tsunami yang parah kan daerah Widarapayung sana. Di sini malah air tidak sampai naik jauh dari pantai. Tidak ada korban jiwa jadinya karena tsunami karena terhalang Nusakambangan," tandasnya.
Antisipasi Tsunami dari BMKG
Kepala Stasuiun Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meminimalisir korban jiwa jika terjadi gempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir selatan Jawa Tengah.
Baca Juga: Usai Laga PSCS vs AHHA PS Pati, Fasilitas Ruang Ganti Stadion Manahan Diduga Dirusak
Terbaru, salah satunya membuat teknologi berbasis aplikasi yang diberi SIRITA (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert).
"Garis pantai kita di Indonesia itu sangat panjang, belum sebanding dengan alat peringatan dini yang terpasang. Oleh sebab itu kita coba mengembangkan inovasi baru. Aplikasi sirine berbasis telepon seluler berbasis android atau biasa kita singkat Sirita," jelasnya.
Aplikasi ini dinilai lebih personal jika dilihat tren saat ini adanya peningkatan penggunaan menggunakan telepon seluler saat pandemi. Rata-rata tiap rumah minimal ada satu anggota keluarga yang memiliki telepon seluler. Hal ini untuk membantu peran pemerintah daerah.
"Karena kan kalau perintah evakuasi itu kewenangan pemerintah daerah. Jadi coba kita bantu pemerintah daerah untuk membuat aplikasi ini. Harapannya semua masyarakat sudah menginstal aplikasi ini, jadi ketika ada peringatan dini tsunami dari BMKG, pemerintah daerah dalam hal ini BPBD perlu dilakukan evakuasi mereka bisa langsung login di aplikasi Sirita dan mengaktifkan warningnya," tuturnya.
Aplikasi tersebut otomatis akan berbunyi keras walaupun pengguna tengah mengaktifkan mode diam. Cakupan volumenya mencapai 80 persen dari batas maksimal tiap telepon seluler.
"Kami sudah melakukan kajian provider tiap telepon seluler ketika terjadi gempa bumi, masih bisa bertahan paling tidak 5 sampai 10 menit sebelum sistemnya shutdown otomatis. Karena di setiap BTS mereka punya genset. Harapan kami dalam waktu itu, BMKG mengirimkan peringatan dini tsunami maksimal 5 menit sudah terkirim, BPBD harus cepat mengambil sikap membunyikan sirine manual di daerah yang akan terdampak," terangnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Di Tengah Tekanan Global, Mal Baru Bermunculan di Jateng
-
Jangan Tunggu Hutan Terbakar, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Pemerintah Siaga Karhutla Hadapi El Nino
-
Saat Hujan Turun, Siswa SMAN 1 Cepu Terpaksa Geser Meja di Tengah Pelajaran Akibat Atap Bocor
-
Dendam Lama Berujung Teror, Eks Napi Bakar Dua Rumah di Demak dalam Semalam
-
BRI Gelar Buyback Fluktuatif Rp500 Miliar, Optimistis Fundamental Tetap Kuat