SuaraJawaTengah.id - Seniman wayang kulit, Yulius Iswanto (49 tahun) mengkspresikan pesan kasih Natal dalam mural wayang. Menjunjung falsafah hidup persaudaraan sebagai karakter masyarakat Indonesia.
Di tembok sepanjang 55 meter, Iswanto bersama warga Dusun Karangwatu, Desa Pucungrejo, Muntilan, melukis mural bertema wayang wahyu. Cerita wayang wahyu dinukil dari kisah-kisah dalam Injil.
Mural wayang pada tembok di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Muntilan ini menceritakan kisah keselamatan Yesus. Dari mulai Perjamuan Terakhir (Last Supper) hingga kisah Yesus dibangkitkan.
Menurut Iswanto, meski cerita yang ditampilkan bukan tentang kelahiran Yesus (Natal), mural wayang ini mewakili pesan cinta kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.
“Proses keselamatan yang kita terima, memang sungguh dari passion Tuhan Yesus ketika mau menanggapi sebagai ‘penebus’. Banyak karya yang sudah dilakukan Tuhan untuk memberi teladan kita,” kata Iswanto, Jumat (24/12/2021).
Ide membuat mural wayang bertema kisah dalam Injil, muncul dari angan-angan Iswanto membuat karakter wayang wahyu dengan bentuk wayang purwa.
Dia menilai, gerak wayang wahyu terbatas karena mengambil wujud asli dari karakter. Sedangkan wayang purwo mengambil bentuk imajinasi yang menggambarkan sifat dan karakter tokoh.
“Awalnya ketika mau menggambar disini dan karena dekat dengan gereja yang muncul itu (prosesi Paskah). Saya punya angan-angan lama mewujudkan wayang wahyu yang lebih atraktif jika digerakkan. Munculnya ya kayak gini," ujarnya.
Saat melukis wajah Pilatus misalnya, Iswanto menggunakan warna ungu untuk menggambarkannya sebagai tokoh yang plin plan. Pilatus adalah gubernur wilayah Yude yang mewakili kerajaan Romawi mengadili Yesus hingga disalib.
Baca Juga: Jelang Perayaan Natal, Dandim Kunjungi Uskup Palembang
“Saya mengambil karakter untuk wajah Pilatus, butuh perenungan juga. Pilatus dalam Alkitab yang saya ketahui orangnya tidak teguh hati,” kata Iswanto.
Sedangkan wajah Yudas diwarnai hijau muda karena dinilai mewakili karakter pengkhianat yang juga plin plan. Hijau bukan warna primer karena hasil dari paduan berbagai warna.
Pada panel mural Perjamuan Terakhir, Iswanto menambahkan krakter hewan yang turut hadir pada makan malam Yesus dengan 12 muridnya (para Rasul). Perjamuan terakhir menceritakan wujud penyerahan kasih yang paling dalam.
Kasih Yesus menyerahkan dirinya sebagai penebusan bagi umat manusia digambarkan melalui simbol roti dan anggur. Tubuh dan darah.
“Jadi yang ingin saya sampaikan itu, keteladanan Tuhan untuk mewujudkan kasih yang paling agung. Kasih yang paling besar itu ketika seseorang mau mengorbankan diri untuk orang yang dikasihi,” paparnya.
Iswanto mengaku tidak kesulitan menceritakan kisah keselamatan Yesus pada mural. Dia sebelumnya pernah membuat 2 set wayang purwo karakter Yesus dan para Rasul.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
BRI Hadirkan Tebus Gadai Lewat Super Apps BRImo, Cashback 10% Sampai Rp50 Ribu
-
Dorong Daya Saing UMKM, KUR BRI Regional Office Semarang Tembus Rp5,63 T hingga Maret 2026
-
Siap-siap! Ini Estimasi Biaya Kuliah Kedokteran Unsoed 2026, Setara Beli Mobil SUV Baru!
-
Viral! 7 Fakta Jukir Liar Ngepruk Rp40 Ribu di Kota Lama Semarang, Alasan Lupa dan Hujan
-
TPPD Jateng Ingatkan Anak Muda Jangan Terkecoh Konten Medsos: Kinerja Pemerintah Harus Berbasis Data