Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 24 Desember 2021 | 18:00 WIB
Mural wayang tema Kristus di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Muntilan. [Angga Haksoro Ardi]

SuaraJawaTengah.id - Seniman wayang kulit, Yulius Iswanto (49 tahun) mengkspresikan pesan kasih Natal dalam mural wayang. Menjunjung falsafah hidup persaudaraan sebagai karakter masyarakat Indonesia.

Di tembok sepanjang 55 meter, Iswanto bersama warga Dusun Karangwatu, Desa Pucungrejo, Muntilan, melukis mural bertema wayang wahyu. Cerita wayang wahyu dinukil dari kisah-kisah dalam Injil.

Mural wayang pada tembok di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Muntilan ini menceritakan kisah keselamatan Yesus. Dari mulai Perjamuan Terakhir (Last Supper) hingga kisah Yesus dibangkitkan.

Menurut Iswanto, meski cerita yang ditampilkan bukan tentang kelahiran Yesus (Natal), mural wayang ini mewakili pesan cinta kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.  

Baca Juga: Jelang Perayaan Natal, Dandim Kunjungi Uskup Palembang

“Proses keselamatan yang kita terima, memang sungguh dari passion Tuhan Yesus ketika mau menanggapi sebagai ‘penebus’. Banyak karya yang sudah dilakukan Tuhan untuk memberi teladan kita,” kata Iswanto, Jumat (24/12/2021).

Ide membuat mural wayang bertema kisah dalam Injil, muncul dari angan-angan Iswanto membuat karakter wayang wahyu dengan bentuk wayang purwa.

Dia menilai, gerak wayang wahyu terbatas karena mengambil wujud asli dari karakter. Sedangkan wayang purwo mengambil bentuk imajinasi yang menggambarkan sifat dan karakter tokoh.  

“Awalnya ketika mau menggambar disini dan karena dekat dengan gereja yang muncul itu (prosesi Paskah). Saya punya angan-angan lama mewujudkan wayang wahyu yang lebih atraktif jika digerakkan. Munculnya ya kayak gini," ujarnya.

Saat melukis wajah Pilatus misalnya, Iswanto menggunakan warna ungu untuk menggambarkannya sebagai tokoh yang plin plan. Pilatus adalah gubernur wilayah Yude yang mewakili kerajaan Romawi mengadili Yesus hingga disalib.  

Baca Juga: Waspada Omicron, Kemenag Tangsel Anjurkan Ibadah Natal di Rumah: Konsekuensinya Luar Biasa

“Saya mengambil karakter untuk wajah Pilatus, butuh perenungan juga. Pilatus dalam Alkitab yang saya ketahui orangnya tidak teguh hati,” kata Iswanto.

Sedangkan wajah Yudas diwarnai hijau muda karena dinilai mewakili karakter pengkhianat yang juga plin plan. Hijau bukan warna primer karena hasil dari paduan berbagai warna.

Pada panel mural Perjamuan Terakhir, Iswanto menambahkan krakter hewan yang turut hadir pada makan malam Yesus dengan 12 muridnya (para Rasul). Perjamuan terakhir menceritakan wujud penyerahan kasih yang paling dalam.

Kasih Yesus menyerahkan dirinya sebagai penebusan bagi umat manusia digambarkan melalui simbol roti dan anggur. Tubuh dan darah.

“Jadi yang ingin saya sampaikan itu, keteladanan Tuhan untuk mewujudkan kasih yang paling agung. Kasih yang paling besar itu ketika seseorang mau mengorbankan diri untuk orang yang dikasihi,” paparnya.

Iswanto mengaku tidak kesulitan menceritakan kisah keselamatan Yesus pada mural. Dia sebelumnya pernah membuat 2 set wayang purwo karakter Yesus dan para Rasul.

Kedua set (Yesus dan para Rasul) itu dikoleksi oleh seorang pastur di Boston (Amerika Serikat) dan seorang teman di Jakarta.

Mural di depan GKI Muntilan ini dikerjakan sejak Juni 2021. Saat ini pengerjaan sudah selesai sekitar 90 persen tinggal menyisakan sentuhan penyempurnaan.

Keseluruhan dari mural Iswanto dan warga Dusun Karangwatu adalah menjadikan Desa Pucungrejo, Muntilan sebagai “Kampung Wayang”. “Sehingga bisa dimunculkan menjadi spot wisata, memperkenalkan wayang ke generasi yang akan datang,” kata Iswanto.

Tema Natal Bersama 2021 adalah “Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan”. Perayaan Natal di tahun kedua pandemi mengajak jemaat untuk memberi perhatian pada saudara yang sedang menghadapi penderitaan.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Load More