Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Selasa, 01 Maret 2022 | 16:15 WIB
Ilustrasi stunting. Wali kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan faktor anak penderita stunting yakni tingkat ekonomi rendah dan minimnya edukasi mengenai gizi. [Istimewa]

SuaraJawaTengah.id - Pemerintah Kota Semarang menyebut  sebanyak 1.367 anak menderita stunting akibat kekurangan gizi sepanjang tahun 2021.

Wali kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan faktor anak penderita stunting yakni tingkat ekonomi rendah dan minimnya edukasi mengenai gizi.

"1.367 anak yang masuk kategori stunting bisa tuntas faktornya karena ekonomi dan orang tua tidak paham soal gizi," ungkap Hendi di Semarang, Selasa (1/03/02).

Hendi mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan percepatan penanganan dan antisipasi stunting, dengan memberikan bantuan perbaikan gizi pada anak dan edukasi terhadap orang tua anak.

Baca Juga: 5 Channel YouTube Edukasi untuk Belajar Sains dengan Mudah

"Ada anggaran total Rp 6,7 Miliar nantinya akan diberikan makanan sehat buat  anak-anak yang menderita stunting,"jelasnya.

Ia meminta, kepada orang tua agar lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak dalam usia di bawah lima tahun.

"Untuk orang tua tolong perhatikan kebutuhan gizi anak,"ucapnya.

Sementara itu,Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan pada 2019 prevalensi stunting Indonesia tercatat sebesar 27,67 persen.

Sementara, standar yang ditetapkan oleh WHO bahwa prevalensi stunting di suatu negara tak boleh melebihi 20 persen.

Baca Juga: Banyak yang Keliru, Ternyata Tidak Semua Anak Bertubuh Pendek Alami Stunting

"Tahun 2019 angkanya 27,67 persen. Dalam kondisi pandemi alhamdulillah masih bisa turun 24,4 persen. Dari kelayakan internasional masih di atas batas toleransi," ucapnya.

Load More