SuaraJawaTengah.id - Kenaikan harga kedelai dan minyak goreng menyebabkan perajin tahu tombok modal produksi Rp1,5 juta setiap kali produksi. Sudah 1 tahun terakhir ini harga kedelai terus naik.
Perajin tahu asal Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Yunis Setiawan mengatakan, sudah 1 tahun terakhir harga kedalai naik secara bertahap. Dari semula Rp7 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.
“Bagaima nanti nasib anak-anak kami. Dari harga Rp7 ribu, naik kurang lebih sudah 1 tahun. Belum pernah turun,” kata Yunis disela unjuk rasa paguyuban perajin tahu dan tempe di kantor DPRD Kabupaten Magelang, Jumat (25/3/2022).
Akibatnya modal produksi membengkak. Rata-rata perajin tahu dan tempe di Mejing menghabiskan 2,5 kuintal hingga 1 ton kedelai setiap hari.
Kondisi semakin parah sebab 3 bulan terakhir harga minyak goreng ikut naik. Sebagian besar perajin tahu yang berjualan di pasar juga memproduksi tahu goreng.
“Minyak goreng sekarang mahal. Barang juga tidak ada. Kami sebagai perajin tahu tempe sangat kesusahan. Kami punya tenaga kerja banyak. Belum lagi kebutuhan rumah,” ujar Yunis.
Harga minyak goreng di pasar saat ini berada di kisaran harga Rp370 ribu hingga Rp400 ribu per jeriken (ukuran 16 kilogram). Sebelumnya harga minyak goreng Rp250 ribu per jeriken.
Perajin kelas menengah rata-rata menghabiskan 1 sampai 2 jeriken minyak goreng setiap hari. Perajin terpaksa tombok Rp1 juta hingga Rp1,5 juta agar bisa tetap memproduksi tahu. “Sekarang nombok terus. Seumpama tidak produksi ya bagaimana?”
Ada lebih dari 200 perajin tahu dan tempe yang bertempat usaha di Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo. Menurut Yunis saat ini sekitar 60 perajin sudah bangkrut dan berhenti produksi.
Dampak dari usaha yang tutup bukan hanya dirasakan para pemilik pabrik, tapi juga warga sekitar. Usaha kerajinan tahu dan tempe paling sedikit menyerap 7 sampai 10 tenaga kerja yang berasal dari warga sekitar.
Mereka bekerja sebagai tenaga kerja pencetak tahu, buruh bongkar kayu, dan pengangkut bahan bakar. Para perajin terpaksa mengurangi waktu kerja para buruh dengan menerapkan sistem kerja giliran (sehari masuk, sehari libur).
“Tuntutan kami minyak dan harga kedelai bisa normal kembali. Meminta aparat untuk menindak, entah sweeping atau apa atas kelangkaan itu. Sudah mahal kok minyak juga tidak ada. Kemana begitu,” kata Yunis.
Unjuk rasa paguyuban perajin tahu dan tempe Desa Mejing disertai aksi teaterikal. Aksi teaterikan menggambarkan kondisi ekonomi yang sulit akibat kenaikan harga kedelai dan minyak goreng.
Situasi yang sulit juga digambarkan para perajin melalui dalam spanduk yang antara lain berisi: “Aku gagal lamaran mergo dele larang”, “Mandalika disorot perajin kedelai dibiarkan”, dan “Tulung maseh lengo goreng dunke regone”.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Soeharno yang menemui perwakilan pengunjuk rasa mengatakan, aspirasi para perajin akan disampaikan ke pemerintah pusat dan DPR RI.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
GIIAS Semarang 2026 Bidik Pasar Jateng, 19 Merek Siap Pamer Teknologi Baru
-
PAD Jateng Baru 62,9 Persen, Masih Kurang Rp5,9 Triliun untuk Kejar Target 2026
-
Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut
-
Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan
-
Pencarian Semalaman Berakhir Tragis, Siswa SMK Ditemukan Tewas 50 Meter dari Pantai Jatisari Rembang