Banyak orang meyakini, di Candi Asu jasad Rakai Kayuwangi dimakamkan. “Di sini tanah perdikannya Rakai Kayu Wangi. Dia diberi (wilayah kekuasaan) oleh Raja Mataram Hindu.”
Kembali soal ritual di candi saat siklus tanam padi, bagian terakhir dari ritus pemujaannya ditutup di Candi Lumbung.
Masyarakat kuno lereng Merapi meyakini menggelar ritual di candi yang oleh mereka dikenal sebagai candi Sri ini akan mendatangkan panen berlimpah. “Candi Lumbung itu untuk masayarakat dulu, namanya candi Sri. Pertanda ada kemakmuran untuk panen raya padi,” kata Jumat.
Ada kesamaan motif pada relief ketiga candi Hindu ini. Ditemukan motif sulur-suluran dan burung (ada yang menyebut burung nuri atau kakatua).
"Relief yang dominan di Candi Pendem itu burung dan daun sulur, sama dengan Candi Lumbung. Di Candi Lumbung dan Pendem juga ada ada relief ghana atau buto (raksasa)."
Candi Pendem, sesuai namanya ditemukan dalam keadaan terkubur pasir dan tanah akibat letusan Gunung Merapi. Candi digali sekitar tahun 1929 oleh arkeolog berkebangsaan Belanda.
Seperti kebanyakan candi Hindu, ketiga candi di Desa Sengi ini belum selesai dipugar. Semua candi ini belum memiliki kemuncak karena batuannya belum ditemukan.
Hanya Candi Lumbung yang boleh dianggap paling lengkap dari dua candi lainnya. "Sudah agak memuncak, sudah ada kaki, tubuh, dan kepala. Candi Asu untuk tubuhnya belum sampai ke kemuncak. Paling pendek Candi Pendem. Tubuhnya baru sekitar sepertiga bagian."
Ketiga candi masing-masing dijaga seorang juru pelihara. Candi Asu dijaga juru pelihara Wahyu Setyanto, Candi Lumbung, Nurdiyono, dan Candi Pendem, Jumat.
Baca Juga: Setelah Jadi Perdebatan, Tiket Masuk Candi Borobudur Akhirnya Tak Jadi Naik
Jumat sendiri sudah 32 tahun menjaga peninggalan sejarah di kompleks candi Sengi. Dia paling senior diantara juru pelihara lainnya.
"Candi Lumbung belum ada pagarnya karena disana lahannya masih ngontrak. Kalau Candi Asu dan Pendem tanahnya sudah milik BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya)," kata Jumat.
Jumat berharap masyarakat ikut menjaga dan menjadikan ketiga candi ini sebagai tempat studi kebudayaan. Semua orang bisa mengunjungi situs purbakala ini dengan mengajukan permohonan kunjungan di bpcbjateng.id.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK
-
Gebrakan Awal Tahun, Saloka Theme Park Gelar Saloka Mencari Musik Kolaborasi dengan Eross Candra
-
Deretan Kontroversi Kebijakan Bupati Pati Sudewo Sebelum Berakhir di Tangan KPK
-
OTT KPK di Pati: 6 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan yang Sudah Lama Dibisikkan Warga
-
7 Kontroversi Bupati Pati Sudewo Sebelum Kena OTT KPK, Pernah Picu Amarah Warga