SuaraJawaTengah.id - Sistem zonasi sekolah menyebabkan SD Negeri Cacaban 1 Magelang kesulitan mencari calon siswa. Wilayah sekolah berbatasan dengan Kabupaten Magelang.
Menurut Poniyati, guru agama Kristen yang merangkap panitia penerimaan siswa baru, sekolah saat ini baru menerima pendaftaran 14 calon siswa dari kuota 28 murid.
“Sekarang baru 14 siswa (yang mendaftar). Ya nunggu. Biasanya ada yang pindahan. Semoga nanti terpenuhi. Buka pendaftaran 28 baru terisi 14 siswa,” kata Poniyati kepada SuaraJawaTengah.id, Senin (4/7/2022).
Kata Poniyati dulu sebelum diberlakukan sistem zonasi, SD Negeri Cacaban 1 Kota Magelang selalu kebanjiran siswa.
“Dulu cari murid 35 gitu berani. Penuh. Sampai geser ke SD yang belum penuh," ungkapnya.
Tapi saat ini mencari siswa sesuai jumlah kuota saja sulitnya bukan main. Tahun lalu, dari target kuota 28 siswa hanya terpenuhi 23 murid.
“Karena zona jadi nggak banyak (jumlah murid). Dampaknya terasa banget. Sekarang cari (murid) sulit," paparnya.
SD Negeri Cacaban 1 berada dekat perbatasan Kota Magelang dengan Kabupaten Magelang. Sebelum berlaku zonasi sekolah, banyak murid yang tinggal di wilayah Kabupaten menyeberang bersekolah sekolah di Kota.
Sistem zonasi menyebabkann orang tua takut menyekolahkan anak di luar wilayahnya.
Baca Juga: Libur Sekolah, Arus Lalu Lintas di Kawasan Puncak Bogor Mengalami Kemacetan Panjang
“Dulu waktu belum ada sistem zona kan mereka berani (sekolah) ke Kota Magelang. Sekarang merasa dirinya orang Kabupaten terus nggak berani," ujar Poniyati.
Padahal secara geografis ada beberapa daerah yang masuk wilayah Kabupaten Magelang, lokasi sekolah terdekat berada di wilayah Kota Magelang. “Terus sekarang terkotak-kotak begitu," keluhnya.
Ada juga dugaan jumlah murid berkurang karena keberhasilan program keluarga berencana. Sehingga jumlah sekolah negeri lebih banyak dari jumlah calon peserta didik kelas I.
SD Negeri Cacaban 1 berada satu kompleks dengan SDN Cacaban 6. Tidak jauh dari situ juga terdapat SD Negeri Cacaban 3, Cacaban 4 dan Cacaban 5.
“Itu karena zonasi (murid berkurang). Dari pengalaman tahun ke tahun, ya tadinya kita nggak pernah kekurangan murid,” kata Poniyati.
Jalur zonasi bertujuan memeratakan jumlah siswa di sekolah negeri. Sehingga diprioritaskan untuk warga yang tinggal dalam radius terdekat dari sekolah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kudus Darurat Longsor! Longsor Terjang 4 Desa, Akses Jalan Putus hingga Mobil Terperosok
-
5 Lapangan Padel Hits di Semarang Raya untuk Olahraga Akhir Pekan
-
Perbandingan Suzuki Ertiga dan Nissan Grand Livina: Duel Low MPV Keluarga 100 Jutaan
-
Fakta-fakta Kisah Tragis Pernikahan Dini di Pati: Remaja Bercerai Setelah 6 Bulan Menikah
-
Miris! Sopir Truk Kawasan Industri Terboyo Keluhkan Iuran Pemeliharaan Tapi Jalannya Banyak Rompal