Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 29 Juli 2022 | 21:31 WIB
Pertunjukan wayang kulit di kompleks pesarean Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suronalan di Dusun Soronalan, Desa Soronalan, Sawangan, Magelang, Jumat (29/7/2022). [Suara.com/ Angga Haksoro Ardi]

Pernah pada suatu masa, pertunjukan kesenian digelar 10 hari berturut-turut menjelang perayaan 1 Suro. Tidak hanya wayang kulit, kelompok ketoprak juga pernah main di sini.

“Jadi ini berhenti (pertunjukan tidak digelar beberapa hari berturut-turut) semenjak ada Corona. Saya dapat wangsit kalau ada kesenian yang mau tampil ya diterima saja. Akhirnya tetap ada wayangan, meskipun tidak digelar seperti biasanya,” kata Mbah Tasih.

Mbah Tasih yakin diberikannya berkah kelancaran acara pertunjukan kesenian pada malam 1 Suro atas kersa (keinginan) KRT Suronolo. “Mungkin karena keinginan Eyang Suronolo bisa dilakukan pertunjukan kesenian seperti itu.”

Tidak begitu jelas siapa sebenarnya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suronolo yang makamnya begitu dihormati di Dusun Soronalan.

Baca Juga: Apakah Malam 1 Suro Sama dengan Malam 1 Muharram? Ini Letak Perbedaannya

Mbah Tasih bercerita, KRT Suronolo adalah salah seorang pengawal Kebo Kanigoro. Dia pengikut setia raja terakhir Majapahit, Brawijaya V.

Saat Majapahit berada di ujung masa kekuasannya, Kebo Kanigoro memilih mengembara menjadi pertapa di lereng Merapi dan Merbabu. Petilasan Kebo Kanigoro sendiri berada di Dusun Pojok, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali.

Menurut versi Mbah Tasih, pada akhir masa Kerajaan Majapahit, Kebo Kanigoro dan pengikutnya yang beragama Hindu menolak masuk Islam.

“Ini tokoh dari Kadipaten Pengging, pengawalnya Kebo Kanigoro. Pada peristiwa masuknya Islam, Kebo Kanigoro dan para pengikutnya disuruh masuk Islam. Mereka bersikukuh menolak.”

Perjalanan mengikuti Kebo Kanigoro itu yang membuat KRT Suronolo akhirnya tiba di wilayah hutan sebelah barat kaki Gunung Merbabu. Wilayah itu nantinya menjadi cikal bakal Dusun Soronalan.

Baca Juga: 4 Beda Malam 1 Suro dan 1 Muharram, Walau Dirayakan di Hari yang Sama

Berdasarkan teori sejarah penamaan tempat, Dusun Soronalan hampir pasti diambil dari nama Suronolo. Mbah Tasih yakin, KRT Suronolo tinggal dan wafat di dusun ini.

Load More